
Sekilas terdengar mulia relawan politik. Mereka hadir membawa semangat perjuangan, loyalitas tanpa pamrih, katanya. Tapi mari kita tarik tirai pencitraan itu barang sejenak dan lihat isi dapurnya yang penuh gorengan. Bukan gorengan risol atau tahu isi, tapi gorengan strategi, ambisi, dan transaksi.
Miris? Mungkin. Tapi itulah kenyataan di permukaan.
Relawan hari ini bukan sekadar relawan. Ada relawan di dalam relawan, seperti lapisan puff pastry politik. Ada koordinator, sub-koordinator, dan tukang selfie bersertifikat. Katanya demi kemenangan calon, padahal sebagian sibuk menyusun proposal operasional. Lugasnya “Mau menang? Ada ongkosnya, Bos.”
hingga relawan bayangan yang tak pernah muncul saat kerja tapi selalu siap saat “pencairan dana operasional”. Semua tersusun rapi, seperti organ dalam tubuh kampanye. Dan mereka bekerja, bukan hanya untuk memenangkan calon tapi untuk memastikan bagian masing-masing tetap aman di piring.
Dalam dunia relawan kekinian, ada tiga kategori yang sering kita temui.
Pertama, relawan instan. Mereka hadir, bekerja, teriak paling keras, asal ada ‘uang jalan’ yang juga instan. Istilah kerennya OSPUL ( Ongkos Pulang ) . Mereka tidak peduli visi-misi, yang penting bensin terisi, perut terisi, dan amplop tidak kosong.
Kedua, relawan idealis bersyarat. Mereka ini tidak menuntut saat kampanye, tapi punya harapan menunggu proyek setelah “raja baru” naik tahta.
“nanti kalau menang, kita kawal ya ( proyek )”. Mereka sabar, tapi kalkulatif. Tidak bicara uang sekarang, tapi jelas menyiapkan proposal masa depan.
Yang terakhir relawan yang benar-benar bekerja demi rakyat. Hati mereka separuh malaikat, Mereka bekerja karena cinta pada perubahan. Tidak peduli proyek, tidak berharap jabatan. Tapi dalam dunia yang makin transaksional, mereka ini biasanya hanya jadi dekorasi moral kampanye.Dulu tukang angkat baliho, kini disapa dengan kalimat pamungkas “Terima kasih atas bantuannya, kami akan pertimbangkan ke depan.” Dikasih panggung saat orasi, tapi dilupakan saat pundi-pundi kekuasaan dibagi.
Dan inilah pertanyaan klasik yang tak pernah bisa dijawab dengan jujur setelah calon menang, apa yang terjadi pada para relawan?
Jawabannya sederhana sebagian ditinggal, sebagian diberi pesangon, sebagian besar dilupakan. Dan yang tersisa hanya foto-foto saat kampanye, yang akan mereka simpan seumur hidup sebagai bukti bahwa mereka pernah dekat dengan kekuasaan meski hanya saat butuh suara.
Ironisnya, para relawan ini tahu. Mereka tahu akan dibuang. Mereka sadar akan dicampakkan. Tapi tetap saja mereka hadir, bersorak, bekerja, memompa semangat. Karena di antara rasa kecewa dan idealisme yang makin tipis, ada dua alasan yang tersisa: kenangan, dan harapan “bisa menggoreng” peluang.
Menggoreng? Ya. Dalam politik, gorengan bukan cuma makanan warung. Tapi juga strategi bertahan. Menggoreng isu agar viral. Menggoreng kedekatan agar dihitung. Menggoreng loyalitas agar jadi alat tawar. Semakin canggih cara menggoreng, semakin besar kemungkinan mendapat bagian.
Dan ketika pesta politik usai, ketika kursi sudah terisi, relawan akan kembali ke posisi semula yaitu penonton. Tapi bukan penonton yang diberi tiket VIP, melainkan penonton dari luar pagar yang tak diundang ke ruang makan kemenangan.
Jika politik itu kejam, maka perlakuan terhadap relawan barangkali lebih kejam. Bukan hanya dipakai dan dibuang, tapi juga diminta tetap tersenyum setelah diabaikan. Bahkan saat mereka sadar, yang mereka perjuangkan bukan perubahan, melainkan jalan tol kekuasaan untuk segelintir elit.
Tapi jangan salah. Ini bukan soal salah atau benar. Ini soal siapa yang berkuasa dan siapa yang terpaksa. Soal siapa yang pegang kendali, dan siapa yang terus diberikan janji.
Dan relawan, seperti biasa, akan tetap datang lagi di musim politik berikutnya. Bukan karena mereka bodoh. Tapi karena di negeri ini, gorengan selalu laku asal digoreng dengan cara yang tepat.
Penulis : Rendi Hafiz
