Redaksi BBM | Rabu, 18 Juni 2025
Di negeri layaknya dogeng cerita Panji Manusia Millenium dan Cinta Fitri seperti lewat, ada perusahaan besar bernama Wilmar. Kerjaannya ekspor minyak sawit, duitnya gak usah ditanya. Tapi yang bikin geger bukan karena mereka buka cabang, tapi karena mereka setor Rp11 triliun ke negara. Bukan pajak. Tapi… ya, semacam “maaf-maafan berdana besar.”
Masyarakat terdiam. Bukan karena kagum. Tapi bingung, kalau di beliin bakwan bisa itu di buat pagar laut dari Sabang Sampai Merauke. Ujarnya
“Ini negara apa rekening bersama?”
Konon katanya, duit Rp11 triliun itu buntut dari dugaan “main belakang” izin ekspor CPO. Tapi yang bikin lebih lucu dari sinetron azab yang ada di TV nasional.
Wilmar langsung bayar. Tanpa drama. Tanpa klarifikasi. Tanpa pencitraan. Tanpa masuk YouTube Densu dan Deddy Corbuzier
Seolah-olah, “Lah, segitu doang?”
Sontak rakyat mulai mikir:
“Kalau mereka bisa setor Rp11 T sambil ngopi,berapa banyak yang nggak ketauan?”
“Yang kerja jujur disuruh upload SPT pajak, yang ngatur jalur ekspor bisa setor kayak beli Es Dawet .”
Dan ya… beginilah negeri ini.
Yang setor besar disambut, yang protes malah dilabeli “mengganggu stabilitas nasional.”
Oligarki?
Ah, kata itu sudah basi. Di negeri ini, oligarki bukan cuma nyata.
Mereka pegang tanah, ekspor, undang-undang, bahkan spanduk selamat datang.
Yang tak punya kuasa, cuma bisa ngetik satire di caption Instagram.
Tapi biar bagaimana, Wilmar sudah setor Rp11 T.
Negara dapat uang. Kita dapat pelajaran.
“Kalau punya masalah hukum, jangan cari pengacara. Cari triliunan.”
Bangsa ini bukan anti-korupsi.
Kita hanya anti kalau korupsinya tidak bagi-bagi.
Warganya disuruh hemat subsidi,
sementara yang pegang sawit bisa setor triliunan tanpa ditagih dua kali.
Dan ya, kita tetap disuruh cinta tanah air,serta Nasionalis
walau tanahnya sudah dicicil korporasi sejak dekade lalu.

