Babi Itu Haram, Dosa Yang Di Pilih – Pilih

0

 

 

 

 

 

 

 

 

Di negeri yang katanya paling religius ini, garis dosa ditarik tegas… tapi hanya untuk satu hal ” BABI ”
Ya, babi. Daging merah yang seolah-olah menjadi simbol utama kesalehan.
Sentuh saja, kamu dicap najis. Makan? Neraka!

Tapi anehnya, tangan-tangan yang merampok uang rakyat tak pernah disebut najis.
Koruptor yang membuat anak-anak sekolah makan nasi garam, masih bisa tersenyum di TV.
Anggota dewan yang tidur saat sidang, tapi jeli saat pembagian proyek, masih disebut terhormat.

Lucu, kan?

Bangsa ini bisa ribut berhari-hari soal restoran yang jual daging babi,
tapi diam membisu saat aparat ketahuan jual barang bukti narkoba dan berperan dalam Judol.
Marah besar lihat turis makan babi di pinggir jalan,
tapi biasa saja lihat Korupsi , Gratifikasi, Berzina, buka prostitusi online dan banyak lagi kejahatan.

Ada yang bilang, “babi itu haram karena jelas dalam kitab.”
Benar. Tapi apakah mencuri, memeras, korupsi, narkoba, memperkosa juga tidak jelas?
Bukankah kitab suci juga melaknat semua itu?
Atau kita cuma rajin menghafal ayat yang cocok untuk menyerang orang lain,
bukan untuk mengoreksi diri sendiri?

Kita hidup di tengah bangsa yang histeris urusan perut, tapi lumpuh urusan akhlak.
Yang penting “tidak makan babi”,
meski uang sekolah anak yatim ditilep.
Yang penting “tidak makan haram”,
walau gaji besar hasil dari tanda tangan penuh tipu daya.
Yang penting “pakai jilbab”,
padahal hatinya telanjang dari kejujuran dan empati.

Inilah kemunafikan berjamaah.

Babi dijadikan kambing hitam,
sementara dosa sosial, politik, dan kemanusiaan jadi sekadar “ujian hidup”.
Kita ciptakan standar ganda,
Perut dijaga dari haram,
tapi tangan bebas menjamah apapun.

Dan lebih parah lagi,
pelaku korupsi disambut pulang seperti pahlawan.
Penjahat berseragam diberi tempat duduk terhormat.
Artis yang pernah jadi mucikari, sekarang ceramah di TV.
Pelaku dosa besar bisa jadi duta moral nasional asal jangan makan babi.

Beginikah cara kita mendidik generasi?
Menakut-nakuti anak-anak dengan babi,
tapi membiarkan mereka tumbuh di tengah budaya pencitraan dan keserakahan.

Kita sedang menciptakan masyarakat yang munafik yang takut kepada simbol, bukan kepada nilai.
Yang takut najis di kulit, tapi tidak takut najis di hati.
Yang mencaci maksiat di televisi, tapi menikmatinya di kamar pribadi.

Sudah cukup.
Mari kita berhenti memilih dosa mana yang mau kita benci, dan mana yang mau kita maklumi.

Kalau kita bisa berteriak lantang “BABI ITU HARAM!”
Maka kita juga harus berani berteriak:
KORUPSI ITU LAKNAT!
PROSTITUSI ITU LUKA BANGSA!
KEMUNAFIKAN ITU RACUN!

Bangsa ini tak akan hancur karena orang makan babi,
tapi akan remuk karena orang-orang rakus yang dibela atas nama “khilaf”.

Tuhan tidak melihat isi piringmu.
Tuhan melihat apa yang kamu lakukan pada sesamamu.

Bangkitlah, wahai bangsa yang katanya beriman.
Sudahi perayaan kemunafikan.
Sudahi ibadah penuh pura-pura.
Sudahi kesalehan yang hanya untuk pamer.
Dan mulailah membangun negeri ini dari hati yang bersih, bukan dari mulut yang sok suci.

Karena kalau iman hanya soal daging,
maka setan pun masih terlihat halal…
selama tidak makan babi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini