“Pemimpin di Persimpangan ,Antara Kata, Karya, dan Harga”

0

 

 

 

Seorang pemimpin, menurut Aristoteles, adalah archon bukan sekadar sosok yang duduk di kursi kekuasaan, melainkan figur yang menggerakkan dengan teladan, keberanian moral, dan kontribusi nyata. Dalam The Republic, Plato mengajarkan bahwa pemimpin ideal adalah philosopher king, bukan sekadar penikmat kursi empuk, melainkan mereka yang mampu menghidupkan gagasan dengan tindakan.

Namun, zaman kini telah melahirkan satu tipologi baru: “pemimpin administrasi” yang lihai menyusun strategi di papan tulis, namun jarang turun menjejak tanah. Mereka fasih menyampaikan “visi dan misi”, tetapi lupa bahwa rencana yang besar membutuhkan bahan bakar untuk berjalan. Tidak ada kapal yang berlayar hanya dengan aba-aba kapten; layar butuh angin, dan mesin butuh solar.

Marcus Aurelius, sang Kaisar Stoa, pernah menulis: “Waste no more time arguing what a good man should be. Be one.” Pesan ini relevan untuk para pemimpin yang rajin berdebat tentang konsep kerja, tetapi pelit menyalurkan dukungan baik moral, material, maupun finansial kepada mereka yang diperintah. Sebab, di dunia nyata, instruksi tanpa sumber daya ibarat memerintahkan membangun istana dengan tangan kosong.

Machiavelli pun, dalam The Prince, menyadari bahwa kekuasaan memerlukan “modal pengaruh” untuk bisa efektif. Bukan hanya pengaruh dalam kata-kata, tetapi pengaruh yang diiringi resources. Seorang bos yang bijak tahu, bahwa ketika ia meminta orang berjalan jauh, ia setidaknya harus menyediakan alas kaki. Bahkan Konfusius pun mengingatkan: “The ruler’s virtue is like the wind, and the common people are like grass; when the wind blows, the grass bends.” Angin di sini tak cukup hanya sejuk, tetapi juga harus menggerakkan.

Di balik itu, ada kesadaran akademis yang kadang disembunyikan: perintah yang disertai dukungan apalagi dana bukanlah sekadar kemurahan hati, melainkan bukti keseriusan dan tanggung jawab. Karena ketika bos hanya memerintah tanpa memberi modal, yang bekerja bukan semangat tim, melainkan rasa takut. Dan itu, menurut para filsuf, bukanlah kepemimpinan sejati, melainkan sekadar manajemen tekanan.

Kita memang tidak kekurangan pemimpin yang pandai berbicara, tetapi kita rindu pemimpin yang pikirannya menyala, hatinya hidup, kakinya menapak, dan tangannya ikut memberi bekal pada setiap perjalanan yang ia perintahkan. Sebab tanpa kontribusi, kekuasaan hanyalah kursi kosong yang nyaring berderit saat diduduki, dan perintah hanyalah gema yang mati sebelum sampai di medan kerja.

Bintang Broadcast Media : Edisi Weekend
Penulis : Reendi Hafiz.R

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini