Bandar Lampung, 1 September 2025 – Hari ini, ribuan massa dari mahasiswa hingga masyarakat umum siap menggeruduk DPRD Provinsi Lampung. Mereka turun bukan karena ingin gaduh, tapi karena suara rakyat terlalu lama dikecilkan, sementara suara elite politik terlalu sering dibesarkan.
Polisi dan TNI sudah berjaga, jalanan dialihkan, pengamanan diperketat. Tapi jangan lupa bukan rakyat yang harus ditakuti, melainkan kebungkaman para pejabat yang selama ini membuat negeri makin sesak.
Aksi ini lahir dari sebab-akibat yang jelas korupsi yang dibiarkan, arogansi wakil rakyat yang dipertontonkan. Mereka yang dulu ramah mengetuk pintu rakyat saat pemilihan, kini justru menutup pintu rapat-rapat setelah duduk di kursi empuknya kekuasaan. Janji tinggal janji, sementara rakyat hanya jadi alat untuk meraih kursi, bukan alasan untuk melayani.
Teriakan massa menuntut hal yang sama yang seharusnya jadi tugas wakil rakyat hukum yang bersih, pejabat yang berintegritas, serta keberpihakan nyata pada rakyat kecil. Ironisnya, semua itu baru terdengar keras justru ketika rakyat berdiri di jalan, bukan saat dewan duduk manis di ruang sidang.
Momentum ini menjadi pengingat keras tanpa rakyat, kalian bukan apa-apa. Gedung megah, kursi empuk, hingga mikrofon yang sering kalian rebut tak akan berarti jika suara rakyat tak lagi mengalir ke dalamnya.
Hari ini, Lampung bukan hanya ikut arus gelombang demo nasional, tapi menunjukkan bahwa rakyat masih berani bicara. Mereka ingin membuktikan satu hal jangan sekali-kali meremehkan suara jalanan, karena di sanalah nurani bangsa masih berdenyut.
Dan satu hal penting kita semua berharap aksi ini berjalan damai, tanpa ada anarkis. Sebab kekuatan rakyat bukan di amarah yang membakar, melainkan di suara yang mampu mengguncang nurani penguasa.

