Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang sebagai mahakarya pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, kini berubah wajah menjadi panggung intrik politik dan sabotase kepentingan.
Alih-alih menjadi solusi atas stunting dan malnutrisi, program ini justru menimbulkan pertanyaan serius apakah yang bergizi sesungguhnya adalah perut rakyat, ataukah kursi kekuasaan?
Gelombang demonstrasi berjilid-jilid di berbagai kota, yang awalnya berbicara soal harga sembako, kini merembet menjadi kritik telak terhadap pemerintah yang dianggap menjadikan MBG sebagai alat legitimasi politik. Sorak mahasiswa hingga orasi aktivis menyebut MBG tak ubahnya “amplop bergizi” untuk merawat citra, bukan untuk merawat rakyat.
Tak berhenti di jalanan, istana pun gaduh. Isu reshuffle kabinet kembali mencuat, bak drama berseri yang diputar ulang setiap kali terjadi krisis kepercayaan publik. Beberapa menteri yang dianggap gagal menjaga kualitas dapur MBG disebut-sebut bakal “dimasak” habis oleh presiden. Di balik layar, aroma sabotase politik kian pekat: siapa yang sesungguhnya diuntungkan bila rakyat justru jatuh sakit karena makanan negara?
Data resmi mencatat ribuan siswa mengalami keracunan massal akibat konsumsi menu MBG. Ironisnya, di tengah jeritan orang tua di puskesmas dan rumah sakit, lahir surat perjanjian yang meminta penerima manfaat “merahasiakan kasus keracunan”. Publik pun bertanya, apakah ini negara hukum atau negara sandiwara?
Para pengamat tatanegara menilai, apa yang seharusnya menjadi kebijakan sosial universal, kini diseret menjadi instrumen politik transaksional. Program gizi dijadikan tiket legitimasi, sementara hak rakyat atas pangan sehat justru terpinggirkan.
Tak bisa dipungkiri, gagasan MBG pada hakikatnya mulia memastikan setiap anak bangsa tumbuh sehat dan cerdas. Namun dalam praktiknya, MBG lebih sering tampil sebagai simbol intrik politik ketimbang proyek peradaban.
Akhirnya, publik hanya bisa menyimpulkan dengan getir di negeri ini, bahkan urusan perut rakyat pun bisa dijadikan ajang tarik-menarik kursi dan dagang kekuasaan. Pertanyaan besar pun menggantung di udara apakah yang sedang kita santap hari ini benar-benar makanan bergizi, atau sekadar menu politik beracun yang tersaji di meja republik?

