Setelah mantan Bupati Dendi Ramadhona tokoh yang dahulu memegang pengaruh kuat di Pesawaran ditetapkan sebagai tersangka, ada kemungkinan peta kekuasaan daerah berubah. Pengaruh yang dulu tebal kini menipis. Publik bertanya, apa langkah politik selanjutnya dari partai penguasa di Lampung?
Di tengah situasi ini, sorotan publik mengarah pada tokoh-tokoh Gerindra.
Rahmat Mirzani Djausal sebagai Ketua DPD Provinsi Lampung, Ahmad Muzani sebagai Sekertaris DPP Gerindra, dan Wakil Sekertaris DPP Gerindra serta Sekaligus Wakil Bupati Pesawaran yaitu Muhammad Antonius Ali.
Tidak ada deklarasi resmi, tidak ada manuver terbuka.
Namun di ruang opini masyarakat, berkembang narasi bahwa dinamika ini bisa saja mengarah pada “kudeta” terhadap kepemimpinan Bupati Nanda Indira Bastian sebuah spekulasi publik yang kini menjadi perbincangan politik lokal di akar rumput pesawaran serta opini publik di media sosial seperti Tiktok.
Bagi sebagian kalangan,
posisi Muhammad Antonius Ali dianggap berada dalam orbit politik baru yang mungkin melihat momentum.
Apalagi sudah menjadi rahasia umum, Bupati Nanda mewarisi “gerbong” Dendi kekuatan birokrasi dan loyalitas politik yang kini disebut banyak pihak mulai gembos atau digembosi.
Politik mengajarkan satu hal sederhana,
Tidak ada teman abadi, tidak ada musuh abadi yang abadi hanyalah kepentingan.
Di Pesawaran, banyak yang percaya skenario itu bukan mustahil.
Karena ketika satu poros melemah, poros lain biasanya mulai menata jalan.
Dan Mungkin ada pergeseran pengaruh atau rekonstruksi Kekuasaan.
Publik berhak bertanya dan membaca tanda-tanda.
Pertanyaan pun mengemuka,
Apakah ini adaptasi kekuasaan setelah runtuhnya poros lama?
Apakah sebagai partai penguasa sedang mengatur arah Pesawaran?
Apakah Antonius menjadi figur yang sedang “dipanaskan” untuk momentum tertentu?
Tanpa pernyataan resmi pun, publik Pesawaran membaca gejala.
Dalam politik lokal, diam kadang lebih keras dari pidato.
Berkaca pada Pilkada lalu memperlihatkan bahwa kekuasaan dan pemodal tidak lagi bersembunyi.
Bohir menyapa panggung politik secara terang-terangan.
Kini ketika Bupati Nanda berusaha menata pemerintahan, tekanan politik tetap ada.
Klaim moralitas dan suara rakyat menjadi alat tawar dan tekan.
Kekuasaan bukan hanya tentang jabatan, tetapi kendali emosional perlu diingat ada kemungkinan dendam politik lama yang mencari kepuasan ketika kapal karam.
Dan bohir bukan bekerja dengan perasaan mereka bergerak dengan kalkulasi.
Di balik proses hukum,akhirnya publik memahami pola
ada yang bersalah,
ada yang dikorbankan,
dan ada yang sedang menunggu garis start kekuasaan.
Yang paling rentan bukan pejabat yang diperiksa,
tetapi publik yang diarahkan narasinya.
Namun kali ini, publik Pesawaran tidak lagi pasif.
Mereka mencatat, menimbang, dan menunggu sinyal berikutnya.
Gerak Gerik Gerindra Provinsi Lampung di Pesawaran bisa menjadi asumsi liar masyarakat ada kemungkinan,
penataan ulang pengaruh,adaptasi kekuasaan,atau membuka peluang bagi figur lokal seperti Antonius untuk naik kelas politik.
Mana yang benar? Waktu yang akan menjawab.
Yang jelas, rakyat Pesawaran sadar,
Narasi kekuasaan dapat berubah, tetapi memori publik tidak mudah dihapus.
Catatan
Tulisan ini merupakan gambaran opini dan dinamika persepsi publik di media sosial dan dipermukaan bukan tuduhan hukum.
Kontrol sosial hadir bukan untuk menghalangi kekuasaan, melainkan memastikan ia berjalan dalam koridor yang diawasi publik.
Penulis: Reendi Hafiz

