Suara itu terdengar tegas, tapi menyimpan getir yang dalam. Kuasa hukum keluarga tersangka berbicara bukan hanya sebagai pengacara, tapi sebagai manusia yang melihat sebuah nyawa telah hilang.

0

 

 

 

 

 

 

“Korban mungkin hanya rugi satu atau dua juta rupiah… tapi sekarang, satu keluarga kehilangan anak, kehilangan harapan,” ucapnya pelan, seolah menahan beban yang tak terlihat.
Ia tidak membela perbuatan salah. Tidak juga menutup mata atas kerugian korban. Namun ia mempertanyakan satu hal yang terus menghantui: apakah semuanya harus berakhir dengan kematian?

“Seandainya saat itu memilih melapor ke polisi… mungkin hari ini tak ada ibu yang menangisi anaknya. Tak ada keluarga yang harus memakamkan dengan air mata bercampur penyesalan. Masalah hukum bisa diselesaikan di ruang sidang, bukan di jalanan.”
Kata-katanya bukan untuk menyalahkan korban. Bukan pula untuk membenarkan kejahatan. Tapi sebagai pengingat bahwa kemarahan sesaat bisa berujung duka berkepanjangan.

Di balik angka kerugian materi, ada emosi. Di balik tindakan nekat, ada konsekuensi. Dan di balik satu kejadian tragis, kini ada dua sisi yang sama-sama terluka.
Satu kehilangan harta.
Satu kehilangan nyawa.
Dan keduanya, sama-sama meninggalkan luka yang tak mudah sembuh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini