Pesawaran | Bintang Broadcast Media
Gelaran debat publik Pemilihan Suara Ulang (PSU) Pilkada Pesawaran yang digelar di Hotel Emersia, Kota Bandar Lampung, Minggu (18/5/2025), justru memicu kegaduhan. Alih-alih menjadi ajang transparansi politik, debat ini berubah menjadi sorotan lantaran awak media dilarang masuk untuk melakukan peliputan.
Reaksi keras pun datang dari tokoh besar sekaligus pendiri Kabupaten Pesawaran, Alzier Dianis Thabranie. Sosok yang dikenal tegas, vokal, dan tak pernah gentar menyuarakan kebenaran ini mempertanyakan keras larangan tersebut.
“Saya tokoh pendiri Pesawaran saja tidak diundang oleh KPU. Kalau gitu, mending langsung tunjuk aja Bupatinya, nggak usah pakai debat publik,” kata Alzier dengan nada kecewa.
Lebih lanjut, Alzier mempertanyakan langkah Ketua KPU Pesawaran Fery Ikhsan dan Kapolres Pesawaran AKBP Heri Sulistyo Nugroho yang justru membatasi ruang pers dalam acara penting bagi demokrasi tersebut.
“Emangnya debat ini pakai uang nenek moyang mereka?” sindir Alzier tajam.
Bagi Alzier, debat kandidat adalah ruang sakral untuk menyampaikan visi dan misi para calon Bupati dan Wakil Bupati kepada rakyat. Terlebih, PSU Pesawaran merupakan satu-satunya pemilu ulang yang digelar di Provinsi Lampung berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi. Menurutnya, momen ini seharusnya menjadi catatan sejarah, bukan justru dikaburkan dari mata publik.
“PSU ini adalah hasil putusan MK (Mahkamah Konstitusi), dan sangat bersejarah. Tapi informasi kepada masyarakatnya sangat rendah,” tegas Alzier, dikutip dari RMOLLampung.
Sang Pendiri, Sang Penjaga Demokrasi
Alzier Dianis Thabranie bukan sekadar tokoh, ia adalah fondasi dari lahirnya Kabupaten Pesawaran. Sosok yang dikenal luas karena keberaniannya berbicara lantang demi rakyat. Ketika banyak yang memilih diam dalam zona nyaman, Alzier terus berdiri di garis depan untuk mengawal nilai-nilai demokrasi dan keterbukaan.
Bukan sekali dua kali Alzier mengkritik keras kebijakan yang dinilai tak berpihak kepada rakyat. Suaranya adalah suara nurani publik, yang menolak politik bisu dan tertutup.
Kini, ketika ruang demokrasi coba dipersempit lewat pelarangan wartawan dalam debat PSU, Alzier kembali menjadi benteng suara rakyat.
Bintang Broadcast Media mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda Pesawaran, untuk tidak melupakan sejarah dan menghormati para pendiri daerah. Karena dari suara mereka, lahirlah Pesawaran yang hari ini kita cintai.

