Sandang, Pangan, Papan Sudah Dapat. Pendidikan? Masih Sering Jadi Korban

0

 

 

Dari Zaman Batu Sampai Zaman Beton, Rakyat Disuruh Faham Tapi Tak Dibiarkan Paham – Kini Perlahan Mulai Dibuka Jalan

Bintang Broadcast Media | Rubrik Pendidikan

Zaman Batu: Bodoh Itu Wajar

Di masa prasejarah, ilmu belum ada. Wawasan cuma berasal dari insting dan percobaan. Gagal? Ya mati. Mau pintar? Ya coba-coba.

Dan saat itu belum ada yang salah—karena memang belum ada yang tahu apa itu “salah”.

Zaman Kerajaan: Cerdas Harus Berdarah Biru

Ilmu hanya untuk bangsawan. Yang rakyat cukup tahu cara tunduk dan patuh. Pendidikan jadi simbol kekuasaan, bukan alat pembebasan.

Zaman Penjajahan: Dibiarkan Bodoh Biar Dijajah

Belanda tahu, bangsa bodoh gampang dikendalikan. Maka sekolah disensor, buku disortir, dan pikiran dibonsai.
Rakyat yang cerdas dianggap ancaman. Maka buta huruf dilestarikan.

Zaman Kemerdekaan: Merdeka Secara Negara, Tidak Dalam Pikiran

Sekolah mulai dibuka, tapi jumlahnya kalah jauh dibanding kebutuhan. Buku mahal, guru minim, sistem amburadul.
Dan pendidikan jadi nomor empat, setelah perut kenyang, baju nempel, dan genteng gak bocor.

Zaman Orde Baru: Gedungnya Banyak, Isinya Menghafal

Sekolah dibangun besar-besaran. Tapi yang diajarkan? Diam, patuh, hafal.
Kritik dilarang. Kreativitas diredam.
Yang penting ranking, bukan berpikir.
Yang penting rapih, bukan solutif.

Era Modernisasi Awal: Sinyal Dulu, Baru Nalar

Teknologi mulai masuk. Tapi sayangnya internet datang lebih cepat dari pemahaman.
Anak-anak hafal trending, tapi gak ngerti Pancasila.
Sekolah punya proyektor, tapi isinya tetap slideshow monoton.

ERA SAAT INI: Perlahan Terbuka, Walau Masih Tertatih

Kini, pendidikan tak lagi jadi hiasan upacara. Perlahan, mulai diakui sebagai tulang punggung masa depan.

✅ Program digitalisasi sekolah terus dikembangkan.
✅ Beasiswa makin banyak menjangkau siswa pelosok.
✅ Kurikulum Merdeka memberi ruang untuk berpikir, bukan sekadar menyalin.
✅ Guru mulai dilatih berpikir kreatif, bukan hanya menjadi penyampai isi buku cetak.

Kini, pendidikan inklusif mulai diterapkan, walau masih butuh dorongan besar agar tak hanya jadi slogan.

Kini, rakyat mulai berani bertanya, kenapa sistem ini begini?, bukan hanya manut dan mengangguk.

“Benih pendidikan sudah mulai ditanam. Tapi jangan puas dulu. Airnya belum cukup, lahannya belum rata, dan kadang masih ada yang tega nginjak.”

Kesimpulan Redaksi:

Dari zaman batu sampai zaman bluetooth, kita sudah banyak belajar. Tapi masih banyak yang harus diperjuangkan.

Sandang-pangan-papan boleh megah. Tapi kalau kepala kosong, maka kita hanya mencetak generasi yang tahu cara hidup, tapi tak tahu untuk apa hidup.

Hari ini kita mulai membuka mata.
Tinggal bagaimana semua pihak dari rakyat sampai pejabat benar-benar menyadari bahwa bangsa besar bukan dibangun dari slogan, tapi dari logika dan etika.–

Ditulis oleh: Tim RedaksiBintang Broadcast Media
“Menulis yang menggigit, tapi tetap dengan hati.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini