Lampung — Fenomena labelisasi siswa berdasarkan jurusan pendidikan menengah masih menjadi sorotan. Dari hasil pengamatan dan riset informal pendidikan selama dua dekade terakhir, stigma “anak IPA culun” dan “anak IPS santai” ternyata masih mengakar di banyak sekolah di Indonesia.
Secara historis, pembagian jurusan di tingkat SMA dimaksudkan untuk memfokuskan minat dan bakat siswa. Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dirancang untuk mempersiapkan siswa dengan kemampuan analisis logis, matematis, dan eksakta, sementara Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mengarah pada keterampilan komunikasi, manajemen, serta analisis sosial dan ekonomi. Namun, dalam perkembangan budaya sekolah, pembagian ini justru memunculkan stereotip.
Riset pendidikan menunjukkan, siswa IPA kerap dipersepsikan sebagai individu yang lebih serius, pendiam, dan terfokus pada akademik. Hal ini diperkuat oleh tuntutan kurikulum yang padat, tugas laboratorium, serta jadwal belajar intensif. Imbasnya, banyak yang menilai anak IPA kurang terlibat dalam kegiatan sosial atau interaksi non-akademis.
Sebaliknya, siswa IPS sering diasosiasikan dengan sifat santai, aktif secara sosial, dan gemar berorganisasi. Meskipun sisi positifnya adalah keterampilan komunikasi dan jaringan sosial yang luas, sisi negatif dari persepsi ini adalah anggapan bahwa mereka kurang serius dalam studi atau kerap menunda pekerjaan akademis.
Analisis pendidikan menyebut bahwa label tersebut terbentuk dari kombinasi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi orientasi pembelajaran dan metode mengajar yang berbeda antara IPA dan IPS. Faktor eksternal mencakup budaya sekolah, pengaruh senior, bahkan representasi di media populer yang sering menonjolkan citra “anak pintar = IPA” dan “anak gaul = IPS”.
Dampak dari persepsi ini tidak kecil. Beberapa siswa mengaku terpengaruh dalam membangun kepercayaan diri, memilih jalur karier, bahkan dalam interaksi lintas jurusan. Siswa IPA yang sebenarnya memiliki potensi di bidang sosial sering mengurungkan diri untuk mengeksplorasi, sementara siswa IPS yang memiliki minat akademik kuat kadang merasa kemampuannya diremehkan.
Para pengamat pendidikan menilai, perlu ada pendekatan baru untuk menghapus stigma ini. Penguatan kolaborasi lintas jurusan, pengenalan keterampilan yang saling melengkapi, dan pemberian penghargaan pada prestasi non-akademis dinilai bisa mengubah paradigma lama.
Dengan perubahan pendekatan tersebut, diharapkan label “culun” atau “santai” tidak lagi menjadi patokan penilaian kemampuan siswa. Sebaliknya, potensi individu dapat diakui secara utuh tanpa terikat pada stereotip jurusan. Dunia kerja di era modern menuntut kombinasi keahlian logis, analitis, kreatif, dan sosial, yang tidak dimonopoli oleh satu jalur pendidikan saja.

