Antara Tembakau dan Gula Doktrin Lama, Perusahaan Haus Untung, dan Masa Depan Kesehatan

0

 

 

 

Lampung.– Selama puluhan tahun, tembakau digempur lewat kampanye global, regulasi ketat, hingga stigma sosial. Rokok diposisikan sebagai musuh utama kesehatan. Namun ada fakta pahit yang luput dari sorotan gula justru jauh lebih mematikan, tetapi terus dilegalkan, dijual bebas, bahkan dipromosikan oleh perusahaan-perusahaan raksasa yang haus keuntungan.

Riset medis menegaskan bahwa konsumsi gula berlebih menjadi pemicu utama obesitas, diabetes, jantung, stroke, hingga kanker. Penyakit inilah yang kini menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia dan dunia.

Perusahaan-perusahaan Raksasa di Balik Racun Manis

Berbeda dengan industri tembakau yang terus ditekan, industri gula justru dilanggengkan karena dikendalikan oleh konglomerasi global dan nasional. Perusahaan minuman bersoda multinasional, produsen makanan ultra-proses, hingga raksasa retail modern menjadi mesin penyebar racun manis ini ke masyarakat.

Raksasa minuman bersoda memasarkan produk penuh gula dengan iklan bombastis, menyasar anak-anak dan remaja.

Industri makanan kemasan membanjiri pasar dengan biskuit, sereal, permen, dan minuman instan yang kandungan gulanya melampaui batas sehat.

Perusahaan retail modern menguasai distribusi, memastikan produk bergula tersedia di setiap rak, dari kota besar hingga pelosok desa.

Semua dilakukan demi laba, meski konsekuensinya adalah jutaan rakyat terjebak dalam penyakit kronis seumur hidup.

Politik dan Kepentingan Ekonomi

Gula menjadi komoditas strategis. Ia masuk dalam skema impor, subsidi, hingga lobi politik tingkat tinggi. Tidak heran bila negara seakan menutup mata terhadap dampak gula, sementara tembakau terus dipajaki, dibatasi, bahkan hendak “dimatikan”.

Padahal, industri tembakau di Indonesia menyerap jutaan tenaga kerja dan menjadi penyumbang cukai terbesar negara. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan gula dan produk turunannya lebih banyak menguras devisa lewat impor dan merusak kesehatan publik.

Narasi bahwa rokok adalah musuh tunggal kesehatan kini jelas terbantahkan. Gula, lewat tangan rakus perusahaan-perusahaan haus laba, justru menjadi pembunuh diam-diam yang dibiarkan.

Ironi ini menegaskan bahwa kebijakan kesehatan sering kali bukan soal melindungi rakyat, melainkan siapa yang lebih kuat melobi dan mengendalikan pasar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini