GELAP DI BALIK GEMERLAP : Ketika Lampu Diskotik Lebih Terang dari Nurani Penguasa

0

 

Redaksi BBM News

Malam kian larut. Musik menggema, lampu-lampu menari, dan senyum-senyum plastik menyambut para tamu seolah dunia tak punya dosa. Inilah hiburan malam, panggung megah bagi candu, seks transaksional, dan segala bentuk pelarian dari realitas. Ironisnya, meski agama dan moral sepakat mengecamnya, tempat-tempat hiburan ini tetap berdiri megah, bahkan kian menjamur.

Apakah Tuhan Tidak Didengar, atau Uang yang Lebih Didengar?

Kita semua tahu, hampir setiap agama melarang praktik-praktik maksiat yang banyak terjadi di tempat hiburan malam. Tapi sayangnya, yang sering dijadikan kitab rujukan di meja penguasa bukan kitab suci melainkan buku kas dan daftar sponsor. Ketika moral berteriak, mereka justru menutup telinga dengan dugaan tumpukan upeti.

Pertanyaannya sederhana: jika tempat-tempat itu nyata, terang-terangan, bahkan bisa dicari di Google Maps, mengapa pemerintah seolah tidak tahu?

Apakah aparat kita rabun malam? Atau memang ada “lampu hijau” khusus bagi para pebisnis malam untuk terus melenggang, asal tahu diri, tahu memberi ?apa mungkin seperti itu, mungkin itu hanya sebatas dugaan.

Kriminalitas? Ah, Itu Bumbu Hiburan!

Bukan rahasia lagi bahwa di balik dinding kedap suara karaoke dan klub malam, transaksi narkoba, prostitusi terselubung, hingga perdagangan manusia bisa terjadi. Polisi? Kadang datang, kadang menghilang seperti sulap. Ketika opini publik menganggap berpendapat razia hanya ada saat kamera menyala, sisanya silakan “atur baik-baik”.

Sementara itu, masyarakat dibiarkan bingung apakah hukum itu masih adil, atau hanya alat dagang?

Para pengunjung mungkin merasa “bebas” di dalam, tapi banyak yang tak sadar mereka sedang menjual kesehatan, kehormatan, bahkan masa depan. Ketagihan narkoba, penyakit menular seksual, kehilangan kontrol diri, hingga jebakan utang semua bisa jadi harga dari satu malam “bersenang-senang”.

Tapi jangan khawatir, kata para pemilik bisnis hiburan  “yang penting bahagia, urusan nanti belakangan.”

Bukan hanya pengunjung yang mabuk, tampaknya penguasa pun turut mabuk oleh kekuasaan, oleh uang, oleh kesenangan semu yang mereka terkesan biarkan tumbuh demi alasan “ekonomi dan lapangan kerja”.

Maka pantaslah jika publik hari ini bertanya, Siapa sebenarnya yang perlu direhabilitasi lebih dulu pecandu, atau pejabat yang candu kekuasaan dan suapan?

Penulis : Rendi Hafiz

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini