Selama puluhan tahun, seorang nenek berusia 85 tahun memilih bertahan jualan makanan dengan harga nyaris tak berubah, meski biaya hidup terus naik. Alasannya sederhana tapi menohok: pelanggan utamanya adalah para kuli bangunan dan pekerja harian yang sering datang dengan perut kosong dan uang pas-pasan. Buat sang nenek, makanan bukan sekadar dagangan, tapi bentuk kepedulian. “Kalau saya naikkan harga, mereka makan apa?” kira-kira begitu prinsip hidup yang ia pegang sejak muda.
Di saat banyak usaha fokus ke margin dan efisiensi, kisah ini jadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan kadang lebih mahal dari keuntungan. Secara bisnis, mungkin ini terlihat “rugi”, tapi secara sosial, dampaknya nyata: ada orang yang tetap bisa bekerja karena perutnya terisi. Cerita seperti ini sering viral karena menyentuh sisi yang jarang dibicarakan—bahwa di balik angka dan laba, ada pilihan moral yang tidak semua orang sanggup ambil.

