Indonesia dikenal sebagai negeri maritim, dan lautnya menyimpan cerita panjang tentang tuna. Dari perairan timur seperti Maluku, Papua, hingga Samudra Hindia, nelayan Indonesia setiap hari melaut membawa pulang hasil tangkapan yang menghidupi jutaan orang. Tuna bukan sekadar komoditas ekspor, tapi bagian dari denyut ekonomi pesisir—menggerakkan kapal, pelabuhan, pabrik pengolahan, hingga meja makan di berbagai negara. Tak berlebihan jika Indonesia disebut sebagai salah satu pemain paling penting dalam industri tuna dunia.
Di balik angka produksi yang besar, ada kerja keras nelayan tradisional hingga armada skala industri. Indonesia tercatat sebagai produsen tuna terbesar di dunia berdasarkan volume, dengan kontribusi signifikan terhadap pasokan global. Namun cerita ini tidak selalu mulus. Tantangan seperti overfishing, cuaca ekstrem, hingga fluktuasi harga global membuat sektor ini harus terus beradaptasi agar tetap berkelanjutan dan adil bagi pelaku kecil.
Menariknya, meski menjadi produsen terbesar, Indonesia belum sepenuhnya menjadi eksportir terbesar dalam nilai. Sebagian besar nilai tambah masih dinikmati negara lain yang kuat di sektor pengolahan dan distribusi. Ini menjadi refleksi penting: potensi besar belum tentu berbanding lurus dengan keuntungan maksimal, jika strategi hilirisasi dan tata kelola belum optimal.
