Persib Bandung menunjukkan karakter kuat sekaligus ketajaman lini serang saat membalikkan ketertinggalan menjadi kemenangan 4-2 atas Bhayangkara Presisi Lampung FC dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026. Pertandingan yang digelar di Stadion Sumpah Pemuda, Kamis (30/4/2026), berlangsung panas dan diwarnai keputusan krusial wasit di fase akhir laga.
Bhayangkara membuka pertandingan dengan tempo tinggi dan langsung menekan. Hasilnya terlihat cepat ketika Bernard Henri Doumbia mencetak gol pada menit ke-6, disusul Moussa Sidibe pada menit ke-26. Keunggulan 2-0 membuat tuan rumah berada di atas angin, sementara Persib tampak kesulitan keluar dari tekanan.
Namun, momentum berbalik di penghujung babak pertama. Gol Federico Barba pada menit 45+2 menjadi titik balik yang menghidupkan kembali peluang Persib sekaligus mengguncang stabilitas permainan Bhayangkara.
Memasuki babak kedua, Persib tampil lebih disiplin dan agresif. Rosembergne da Silva menyamakan kedudukan pada menit ke-49, sebelum Beckham Putra membalikkan keadaan menjadi 3-2 di menit ke-60. Dominasi permainan berangsur berpindah ke kubu tim tamu, sementara Bhayangkara mulai kehilangan kontrol.
Kontroversi mencuat di menit-menit akhir. Bhayangkara sempat dua kali membobol gawang Persib, namun kedua gol dianulir wasit karena dinilai terjadi pelanggaran dalam prosesnya. Keputusan tersebut memicu protes keras dari kubu tuan rumah dan menjadi titik krusial yang memengaruhi jalannya laga.
Di tengah tekanan dan tensi tinggi, Persib memastikan kemenangan melalui gol Adam Alis pada menit ke-89. Gol tersebut sekaligus mengunci kemenangan comeback 4-2 yang menegaskan efektivitas dan mental tanding Maung Bandung.
Hasil ini tidak hanya memperlihatkan ketangguhan Persib dalam situasi tertinggal, tetapi juga menyisakan tanda tanya terkait kepemimpinan wasit dalam laga yang sarat kepentingan. Di sisi lain, Bhayangkara harus melakukan evaluasi serius setelah gagal menjaga keunggulan dan kehilangan momentum di kandang sendiri.
Kemenangan ini menjadi sinyal kuat bagi Persib dalam persaingan papan atas liga, sekaligus mempertegas bahwa faktor mental, disiplin, dan ketepatan pengambilan keputusan di lapangan menjadi penentu utama dalam laga berintensitas tinggi.(Roni)

