TANGGAMUS, Bintang Broadcast Media – Bagi Yopanda, 38 tahun, makna kemerdekaan tidak berhenti pada terbebas dari penjajahan. Bagi warga Tanggamus ini, kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup, memperoleh pendidikan, mengembangkan keterampilan, serta keluar dari ketidakpastian ekonomi yang selama bertahun-tahun membayangi kehidupannya.
Sebelum mengenal dunia industri, Yopanda menjalani kehidupan sebagai petani dan pekerja serabutan. Penghasilannya sangat bergantung pada cuaca, musim tanam, dan hasil panen. Kondisi tersebut membuat pemasukan yang diterimanya tidak selalu dapat dipastikan.
Perubahan mulai terjadi ketika pembangunan Pabrik AQUA Tanggamus berlangsung. Yopanda mendapat kesempatan terlibat dalam pekerjaan konstruksi dan kemudian bergabung dengan tim engineering.
Dari lingkungan tersebut, ia mulai mengenal dunia industri yang menuntut kedisiplinan, keteraturan, keterampilan teknis, serta penerapan keselamatan kerja.
Pengalaman itu perlahan mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan.
Saat bekerja bersama tim engineering, Yopanda melihat rekan-rekannya menggunakan komputer dan laptop untuk menunjang pekerjaan. Ia yang saat itu belum memiliki ijazah setara SMA kemudian terdorong untuk kembali belajar.
Kesempatan datang ketika perusahaan menyediakan program Paket C bagi masyarakat sekitar yang belum memiliki ijazah setara SMA.
Yopanda menjadi salah satu dari sekitar 20 warga yang mengikuti program tersebut. Di tengah kesibukannya bekerja, ia kembali duduk di bangku belajar dua kali dalam sepekan hingga akhirnya berhasil memperoleh ijazah Paket C.
“Saya lihat teman-teman di engineering bisa menggunakan komputer dan laptop. Dari situ saya tergerak, saya juga ingin bisa. Ketika ada program Paket C, saya ikut karena ingin mendapat ijazah sekaligus menambah pengetahuan,” kata Yopanda kepada awak media, Senin (17/8/2026).
Kini, setelah sekitar satu dekade bekerja di Pabrik AQUA Tanggamus, Yopanda dipercaya menjalankan tugas sebagai supervisor. Ia tidak hanya memiliki ijazah setara SMA, tetapi juga telah terbiasa menggunakan komputer dan berbagai perangkat kerja yang menjadi bagian dari aktivitasnya sehari-hari.
Dari Petani Mengenal Disiplin Industri
Beralih dari dunia pertanian ke industri bukan perubahan kecil bagi Yopanda.
Jika sebelumnya ia relatif bebas menentukan waktu bekerja di kebun, lingkungan industri mengajarkannya tentang ketepatan waktu, prosedur operasional, tanggung jawab, hingga keselamatan kerja.
Namun, menurut Yopanda, perubahan terbesar justru terjadi pada pola pikir.
Ia mengaku kebiasaan menerapkan keselamatan kerja di lingkungan pabrik ikut terbawa dalam aktivitas sehari-hari, termasuk ketika kembali bekerja di kebun.
“Dulu ketika bekerja sebagai petani, kami tidak terlalu mengenal aturan keselamatan seperti di industri. Setelah bekerja di sini, kami jadi lebih peduli. Bahkan ketika sedang libur dan pergi ke kebun, tanpa sadar kebiasaan tentang keselamatan itu ikut kami terapkan,” ujarnya.
Bagi Yopanda, perubahan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Jika sebelumnya pendapatan sangat bergantung pada musim, kini ia memiliki penghasilan yang lebih stabil sehingga dapat membuat perencanaan ekonomi keluarga dengan lebih baik.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu bentuk kemerdekaan yang paling nyata dirasakannya.
Bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari keterbatasan pendidikan dan keterampilan.
Menurut Yopanda, keberadaan aktivitas industri juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang tidak bekerja langsung di dalam pabrik. Peluang tersebut antara lain muncul melalui mitra kerja maupun tumbuhnya usaha masyarakat di sekitar kawasan.
Mayoritas Karyawan Berasal dari Masyarakat Sekitar
Perjalanan Yopanda menjadi salah satu gambaran bagaimana perubahan kesempatan kerja dapat memberikan dampak terhadap masyarakat di sekitar kawasan industri.
Kepala Pabrik AQUA Tanggamus, Teguh Santoso, mengatakan sejak mulai beroperasi pada April 2016, perusahaan berupaya melibatkan masyarakat sekitar sebagai bagian dari tenaga kerja.
Berdasarkan data per Agustus 2026, sekitar 90 persen karyawan Pabrik AQUA Tanggamus disebut berasal dari masyarakat sekitar.
Menurut Teguh, komposisi tersebut tidak terbentuk secara instan. Sejak awal operasional, perusahaan memberikan berbagai pelatihan kepada masyarakat yang sebelumnya banyak bekerja sebagai petani, pekebun, maupun pekerja sektor informal.
Pelatihan tersebut mencakup pengenalan dunia manufaktur, keselamatan kerja, hingga keterampilan teknis yang dibutuhkan dalam operasional industri.
“Pendekatan ini membuka akses yang lebih setara terhadap keterampilan, pendidikan, serta kesempatan untuk berkembang bagi masyarakat sekitar pabrik,” ujar Teguh.
Ia menegaskan, keberadaan pabrik tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas produksi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem masyarakat di sekitarnya.
“Bagi kami, membangun pabrik berarti juga membangun masyarakat di sekitarnya. Karena itu, sejak awal kami berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal, dan hari ini mayoritas karyawan kami adalah putra-putri daerah yang tumbuh bersama Pabrik AQUA Tanggamus,” katanya.
Kesempatan pengembangan keterampilan tersebut juga diberikan kepada masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang beragam.
Sejumlah keterampilan teknis, seperti pengelasan atau welding dan kompetensi operasional lainnya, diberikan kepada warga yang sebelumnya belum memiliki pengalaman di sektor manufaktur.
Bagi Yopanda, kesempatan tersebut menjadi titik balik yang membawanya dari pekerjaan berbasis musim menuju profesi dengan keterampilan dan tanggung jawab yang lebih terstruktur.
Dari Kesempatan Kerja hingga Pemberdayaan Lingkungan
Pertumbuhan industri juga diiringi dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat dan lingkungan.
Pabrik AQUA Tanggamus menyebut program keberlanjutan yang dijalankan bersama masyarakat berlandaskan filosofi lokal “Begawi Jejama”, yakni bekerja bersama dan bergotong royong.
Di wilayah hulu Pegunungan Tanggamus, perusahaan bersama masyarakat telah menanam lebih dari 11.000 pohon dan membangun sekitar 700 rorak atau lubang resapan air dalam periode 2016 hingga 2026.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat daerah tangkapan air, mengurangi risiko erosi, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Program tersebut juga disertai pendampingan kepada petani kopi melalui praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Sementara di wilayah hilir, perusahaan mengembangkan Taman Kehati Galih Batin seluas sekitar 3,2 hektare sebagai ruang terbuka hijau sekaligus kawasan edukasi lingkungan.
Berdasarkan penelitian bersama Universitas Lampung pada 2025, kawasan tersebut memiliki indeks keanekaragaman hayati sebesar 3,16 yang dikategorikan tinggi. Sedikitnya enam spesies tanaman endemik dan 22 jenis burung telah teridentifikasi di kawasan tersebut.
Upaya pengelolaan lingkungan juga dilakukan melalui program akses air bersih dan sanitasi.
Melalui program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH), Pabrik AQUA Tanggamus menyatakan telah memberikan manfaat kepada 1.037 warga melalui 203 sambungan akses air bersih yang terhubung langsung ke rumah warga.
Program tersebut juga dilengkapi edukasi mengenai sanitasi serta perilaku hidup bersih dan sehat.
Di sektor pengelolaan sampah, perusahaan menjalankan program “Sampahku Tanggung Jawabku”. Sejak program tersebut dimulai hingga 2026, sekitar 378 ton sampah plastik disebut telah dikelola.
Program pemberdayaan lainnya mencakup edukasi lingkungan di sekolah, pendampingan kelompok wanita tani, hingga pembinaan kelompok usaha mikro untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Kemerdekaan yang Tumbuh Bersama
Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat keberadaan industri agar tidak berhenti pada penciptaan lapangan kerja.
Di lingkungan masyarakat, komunitas karyawan Pabrik AQUA Tanggamus juga menjalankan sejumlah kegiatan sosial, antara lain santunan bagi anak yatim dan piatu, penyediaan akses air bersih di sejumlah rumah ibadah, serta edukasi mengenai pengelolaan sampah.
Bagi Teguh Santoso, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi refleksi bahwa pembangunan tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memperoleh kesempatan untuk berkembang.
“Semangat kemerdekaan hari ini adalah tentang membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk hidup dengan kualitas yang lebih baik dan mendorong setiap individu dapat menjadi versi terbaik mereka. Kisah Yopanda adalah salah satu contohnya, dan kami ingin Pabrik AQUA Tanggamus terus menjadi bagian dari perjalanan itu. Selamat Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia,” tuturnya.
Kisah Yopanda menjadi gambaran bahwa kemerdekaan dapat memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.
Bagi sebagian masyarakat, kemerdekaan mungkin berarti terbukanya akses pendidikan. Bagi yang lain, kemerdekaan berarti memperoleh pekerjaan yang lebih layak atau memiliki penghasilan yang lebih stabil.
Bagi Yopanda, semuanya bertemu dalam satu perjalanan: dari seorang petani yang hidup dalam ketidakpastian musim, menjadi pekerja industri yang memperoleh kesempatan belajar, meningkatkan keterampilan, dan membangun masa depan dengan lebih terencana.
Perjalanan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keberadaan industri di daerah tidak hanya diukur dari aktivitas produksinya, tetapi juga dari sejauh mana kesempatan, keterampilan, dan manfaat ekonomi dapat tumbuh bersama masyarakat di sekitarnya.
Sekilas Pabrik AQUA Tanggamus
Pabrik AQUA Tanggamus berlokasi di Jalan Ir. H. Juanda, Pekon Teba, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Pabrik tersebut mulai berproduksi pada 2016 dan berdiri di atas lahan sekitar 96.124 meter persegi.
Pabrik memanfaatkan sumber air pegunungan dari kawasan kaki Gunung Tanggamus yang terlindungi. Produk yang dihasilkan antara lain kemasan galon, botol 600 mililiter, botol 1.500 mililiter, dan gelas 220 mililiter.
Dalam menjalankan operasionalnya, Pabrik AQUA Tanggamus menerapkan program Blue Operations yang berfokus pada efisiensi air, efisiensi energi, pengelolaan sampah plastik, serta berbagai program pemberdayaan bagi karyawan dan masyarakat sekitar.
Tentang AQUA
AQUA merupakan salah satu pelopor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia yang berdiri sejak 1973. Selama lebih dari 50 tahun, AQUA menyatakan komitmennya dalam menyediakan hidrasi sehat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui inisiatif “One Circular Planet” yang berfokus pada sirkularitas air, kemasan, dan karbon.
AQUA juga mengembangkan program AQUA Peduli sejak 1993 sebagai salah satu langkah awal dalam pengelolaan kemasan secara lebih sirkular. Saat ini, perusahaan menyatakan mampu mengumpulkan sekitar 22.000 ton plastik setiap tahun melalui enam unit bisnis daur ulang di Indonesia.
Pada 2018, AQUA meluncurkan gerakan Bijak Berplastik yang mencakup tiga komitmen utama, yakni edukasi daur ulang kepada konsumen, inovasi kemasan produk, serta pengembangan infrastruktur pengumpulan sampah.
Salah satu inovasi kemasan yang dikembangkan adalah AQUA LIFE, yang disebut sebagai produk botol air minum pertama di Indonesia yang menggunakan 100 persen plastik daur ulang.
AQUA juga menyatakan sebagai perusahaan FMCG pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi B Corp, sebuah standar yang menilai kinerja sosial dan lingkungan, transparansi, serta akuntabilitas perusahaan.
Informasi mengenai keberlanjutan AQUA dapat diakses melalui situs resmi perusahaan.(Rn)

