Tak bisa dipungkiri, konten kreator di Lampung kini tengah tumbuh subur bak daun kelor di musim penghujan. Dari kuliner, wisata, hingga isu pemerintahan semua jadi bahan konten.
Plusnya? Ya, ada. Bahkan cukup banyak.
Mereka berhasil mempopulerkan tempat-tempat tersembunyi yang dulu hanya diketahui warga sekitar. Mereka menjadi perpanjangan mata dunia luar terhadap kekayaan budaya dan pesona Lampung. Dalam satu klik, nama Way Kambas atau Pahawang bisa mendunia tanpa bantuan dinas, tanpa proposal.
Beberapa bahkan menjadi jembatan antara masyarakat dan pemangku kebijakan. Isu-isu yang dulu tenggelam di meja birokrasi, kini bisa sampai ke telinga pejabat hanya karena satu video berdurasi 60 detik.
Cepat. Praktis. Efektif.
Tak sedikit dari mereka yang menjelma jadi “hakim medsos”, mengadili tanpa data, mengkritik tanpa akurasi, dan menyindir tanpa etika.
Mereka mengaku wakil rakyat, padahal tak satu pun mewakili dalam forum resmi. Mereka bicara soal kebenaran, tapi tak pernah menyentuh kaidah jurnalistik ataupun kode etik komunikasi
Di era ketika jempol lebih lantang dari nalar, muncullah para pahlawan instan berbekal kamera, opini mentah, dan semangat viral. Mereka mengaku wakil suara rakyat, padahal yang lebih keras terdengar justru suara notifikasi dari endorsement dan cuan yang masuk ke dompet pribadi.
Mereka menuding, menyindir, bahkan memvonis tanpa data cukup dengan lighting yang pas dan caption yang pedas. adab? Itu mungkin hanya submenu di setting tiktok, YouTube dan Instagram mereka. Legitimasi? Tak perlu yang penting views dan komentar rame.
Lucunya, mereka bicara soal moral pemerintah, sambil menjual moralitasnya sendiri di kolom komentar. Menuntut transparansi, tapi lupa transparan soal niatnya. Berjuang atas nama rakyat? Mungkin. Tapi lebih sering terlihat berjuang atas nama algoritma.
Sementara itu, organisasi masyarakat dan lembaga resmi yang berdiri melalui proses panjang dan berlandaskan hukum, masih menjaga kaidah, kode etik, tanggung jawab publik dan legalitas Bersuara, iya. Tapi tahu batas. Mengkritik, iya. Tapi dengan akal, bukan sekadar akal-akalan.
Mungkin memang di zaman ini, lisensi bicara bukan dari UU, tapi dari jumlah follower. Dan kredibilitas, sayangnya, bisa dibeli dengan engagement rate.
Jadi, konten kreator hari ini adalah cermin. Tapi tak semua cermin memantulkan kebenaran. Ada juga yang hanya membuat kita sibuk mengatur pencahayaan, agar tampak lebih baik dari kenyataan.

