
Nasional – Sebuah gambar karikatur bertema “Seleksi Terbuka Sekda” tengah ramai diperbincangkan warganet di media sosial. Karikatur ini menyindir tajam proses seleksi Sekretaris Daerah (Sekda) yang dituding sarat praktik nepotisme.
Dalam gambar tersebut, terlihat seorang kepala daerah yang digambarkan mengenakan seragam dinas, tengah menawarkan kursi Sekda kepada adik iparnya. Ucapan “Demi adik, Mas siapkan kursi empuk ini…” dan “Aman dik, Mas kan Bupati” dinilai sebagai sindiran keras terhadap kepala daerah yang dianggap menyalahgunakan wewenangnya.
Gambar itu juga menyertakan tulisan di bagian atas, “Gak bermaksud melabrak prinsip meritokrasi, cuma pas kebetulan adik ipar..hee..hee,” yang mempertegas kritik terhadap proses seleksi jabatan publik yang seharusnya bersifat terbuka dan berdasarkan kompetensi.
Karikatur ini memancing reaksi tajam dari publik. Banyak netizen menyayangkan jika praktik nepotisme masih terjadi dalam pengisian jabatan struktural di pemerintahan, yang seharusnya mengedepankan prinsip meritokrasi atau sistem berbasis prestasi.
“Kalau begini terus, bagaimana ASN yang berprestasi mau berkembang?” tulis salah satu komentar netizen.
Hingga saat ini belum diketahui secara pasti siapa pembuat karikatur tersebut, namun pesan yang disampaikan cukup jelas dan kuat: kritik terhadap dugaan praktik titipan keluarga dalam proses seleksi jabatan tinggi.
Pemerhati kebijakan publik dan aktivis antikorupsi pun turut angkat suara. Mereka menegaskan pentingnya pengawasan dalam seleksi jabatan strategis di pemerintahan agar tidak disalahgunakan demi kepentingan pribadi atau keluarga.
“Ini bukan sekadar kartun, ini jeritan nurani publik,” ujar salah satu aktivis dari LSM antikorupsi.
Viral! Karikatur Sindir Dugaan Nepotisme dalam Seleksi Sekda, Netizen: Meritokrasi Hanya Slogan
Nasional – Sebuah gambar karikatur bertema “Seleksi Terbuka Sekda” tengah ramai diperbincangkan warganet di media sosial. Karikatur ini menyindir tajam proses seleksi Sekretaris Daerah (Sekda) yang dituding sarat praktik nepotisme.
Dalam gambar tersebut, terlihat seorang kepala daerah yang digambarkan mengenakan seragam dinas, tengah menawarkan kursi Sekda kepada adik iparnya. Ucapan “Demi adik, Mas siapkan kursi empuk ini…” dan “Aman dik, Mas kan Bupati” dinilai sebagai sindiran keras terhadap kepala daerah yang dianggap menyalahgunakan wewenangnya.
Gambar itu juga menyertakan tulisan di bagian atas, “Gak bermaksud melabrak prinsip meritokrasi, cuma pas kebetulan adik ipar..hee..hee,” yang mempertegas kritik terhadap proses seleksi jabatan publik yang seharusnya bersifat terbuka dan berdasarkan kompetensi.
Karikatur ini memancing reaksi tajam dari publik. Banyak netizen menyayangkan jika praktik nepotisme masih terjadi dalam pengisian jabatan struktural di pemerintahan, yang seharusnya mengedepankan prinsip meritokrasi atau sistem berbasis prestasi.
“Kalau begini terus, bagaimana ASN yang berprestasi mau berkembang?” tulis salah satu komentar netizen.
Hingga saat ini belum diketahui secara pasti siapa pembuat karikatur tersebut, namun pesan yang disampaikan cukup jelas dan kuat: kritik terhadap dugaan praktik titipan keluarga dalam proses seleksi jabatan tinggi.
Pemerhati kebijakan publik dan aktivis antikorupsi pun turut angkat suara. Mereka menegaskan pentingnya pengawasan dalam seleksi jabatan strategis di pemerintahan agar tidak disalahgunakan demi kepentingan pribadi atau keluarga.
“Ini bukan sekadar kartun, ini jeritan nurani publik,” ujar salah satu aktivis dari LSM antikorupsi.
