Edisi Internasional | Bintang Broadcast Media
Menembus Batas, Menantang Diam
Teheran – Langit Iran belum benar-benar gelap ketika rudal-rudal Israel menyala di malam hari. Ratusan drone, misil berpemandu, dan intelijen satelit mencabik pangkalan militer, laboratorium nuklir, dan nyawa manusia.
Lebih dari 974 orang tewas, ribuan terluka, dan belasan ilmuwan nuklir serta jenderal top Iran dikabarkan meregang nyawa dalam waktu kurang dari dua minggu. Tapi yang lebih tragis dari dentuman misil adalah diamnya dunia Islam.
Saat Iran Berteriak, Dunia Islam Menyumpal Telinga
Tidak ada peta solidaritas. Tidak ada deretan doa berjemaah di jalan raya. Tidak ada parade bendera seperti saat Gaza diserang. Tak ada ratusan bus ke demonstrasi besar. Yang ada hanyalah tagar murung, pernyataan pers dingin, dan mimbar-mimbar masjid yang sibuk menyusun khutbah netral.
Negara-negara Islam lebih sibuk mengamankan ekspor minyak, menjaga iklim investasi, dan mempertimbangkan kontrak drone baru dari Amerika.
Sebenarnya apa yang membedakan Islam Sunni dan Syi’ah sedikit kami dapat informasi hal tersebut
Sunni: Menggunakan Al-Quran, Hadits, Ijma (konsensus), dan Qiyas (analogi) sebagai sumber hukum.
Syiah: Menggunakan Al-Quran, Hadits (yang berasal dari keluarga Nabi), dan akal (ijtihad) sebagai sumber hukum.
Media Iran menyerukan kemenangan spiritual dan simbolik,“Tamparan untuk AS dan Zionis.”, “Iran tak tunduk.”, “Poros Islam tetap tegak.”
Namun di sisi lain:
– 627 jenderal dan prajurit tewas.
– 11 ilmuwan nuklir hilang.
– Program nuklir Iran ditunda bertahun-tahun akibat kehancuran fasilitas.
Israel bahkan hanya kehilangan 29 nyawa, menurut laporan internasional. Kemenangan apa yang sedang dirayakan? Retorika tak bisa menghidupkan kembali korban.
Dunia Islam, dalam kenyataannya, sudah terpecah dikarenakan mazhab, uang dan rasa takut.
Negara – Negara tanah arab memilih diam ,
Sebagian negara hanya menulis pernyataan formal sambil berswafoto di forum-forum internasional atau membuat caption tiktok,Ig tentang keberhasilan Iran yang merudal dengan sukses.
1. Solidaritas Selektif
– Saat Gaza dibom, jutaan turun ke jalan. Saat Iran diserang? “Bukan urusan kami, itu Syiah.”
– Jadi, jihad ditentukan oleh mazhab, bukan oleh kemanusiaan?
2. Umat Takut Ekonomi Ambruk daripada Aqidah Terguncang
– Negara Islam sibuk menjaga rating kredit dan harga ekspor, bukan martabat umat.
3. Doa Copy-Paste, Aksi Tak Pernah Ada
– “Kami prihatin,” “Kami menyesalkan,” “Kami berdoa” — bahasa diplomasi yang kosong tanpa keberanian.
4. Mazhab Membungkam Nurani
Jika solidaritas hanya untuk Sunni, maka umat ini bukan satu tubuh. Ia hanyalah bisnis franchise berbasis keyakinan.
Perang Iran–Israel membuktikan satu hal umat Muslim belum bersatu bahkan dalam derita.
Ketika saudara Syiah diserang, Sunni berpaling. Ketika aliansi dibangun, hati tetap tercerai. Umat yang pernah mengguncang dua peradaban dunia, kini tak mampu mengguncang meja konferensi PBB.
Satu bangsa, katanya. Tapi satu kematian pun tak cukup menggugah. Maka jangan heran jika musuh terus menekan, karena mereka tahu:
Umat ini kuat di bibir, tapi lumpuh di hati.
Redaksi Internasional Bintang Broadcast Media
“Berani Menyentil, Meski Disumpahi Sendiri.”

