Suara tribun itu bukan hanya gema yel-yel dan drum yang memekakkan telinga.
Itu adalah denyut sebuah komunitas.
Kadang, denyut itu seperti nadi kota. Persib di Bandung. Persija di Jakarta. Arema di Malang. Dan banyak lagi.
Mereka bukan sekadar klub bola, tapi identitas yang ditanam sejak kecil dari kampung, dari sekolah, dari cerita bapak di warung kopi.
Dulu, suporter dianggap ribut, urakan, liar.
Hari ini?
Mereka bisa jadi lebih disiplin dari ormas, lebih loyal dari partai, dan lebih militan dari aktivis.
Mereka tumbuh. Tapi pertanyaannya… tumbuh jadi apa?
Persib punya Bobotoh, yang bahkan bisa mengisi stadion lawan.
Persija dengan The Jakmania, mesin semangat di ibukota.
Arema dengan Aremania, yang seolah lahir dari jiwa Malang itu sendiri.
Tapi kekuatan ini, kadang bukan hanya soal mendukung tim.
Ketika sebuah kelompok bisa mengumpulkan 20.000 orang hanya dengan satu ajakan, itu bukan cuma komunitas itu kekuatan.
Dan kekuatan… pasti dilirik.
Entah oleh yang ingin memeluk atau oleh yang ingin menunggang.
Tak sedikit pejabat, calon kepala daerah, bahkan elite nasional mulai mendekati suporter bukan karena cinta bola. Tapi karena paham satu hal.
Suara tribun bisa digeser ke suara TPS.
Algoritma fanatisme ternyata cocok dijadikan kendaraan.
Karena membentuk organisasi itu rumit tapi membentuk basis suporter? Kadang cukup dengan cinta daerah ,Dan perlu di ingat fanatisme sanggup untuk tidak di bayar bahkan sebaliknya.
Namun di balik hiruk-pikuk, ada luka yang tak boleh dilupakan.
Tragedi Kanjuruhan.
Lebih dari 130 jiwa hilang dalam kejadian tersebut.
Kanjuruhan bukan sekadar insiden. Itu peringatan.
Bahwa ketika massa sudah kuat, tapi sistem tak siap, yang tumbuh bukan kehormatan tapi korban.
Dan ketika kekuatan massa itu mulai diarahkan, tapi bukan oleh nurani maka yang terjadi bukan perubahan, tapi eksploitasi.
Sebagian sudah mulai paham permainan.
Sebagian masih tulus datang hanya untuk mendukung tim kesayangan.
Sebagian mulai ikut merancang arah.
Sebagian masih percaya bahwa tribun adalah tempat murni, tanpa arah politik.
Tak ada yang sepenuhnya benar atau salah.
Tapi satu yang pasti,
Kita sudah berubah.
Hari ini, suporter adalah aktor.
Dan aktor yang tidak sadar bahwa ia sedang main film, bisa saja jadi figuran tanpa disadari.
Apakah kita sedang memperjuangkan tim, atau sedang didorong ikut memperjuangkan kepentingan?
Apakah nyanyian kita murni dukungan, atau gema yang sedang dijual dalam bentuk suara?
Fanatisme : Bisa Dapat Kue, Bukan Lagi Minta Kue
Di titik tertentu, fanatisme bisa jadi modal politik.
Dan itu tidak salah selama tujuannya mulia, dan komunitas tetap jadi subjek, bukan objek.
Tapi jika mulai terlihat komunitas hanya jadi barisan belakang baliho… mungkin sudah waktunya rem introspeksi ditarik.
Karena sejatinya, kekuatan suporter bukan di jumlah massanya.
Tapi di arah geraknya.
Mereka yang dulu hanya dianggap tukang rusuh kini jadi rebutan elite.
Tinggal pilih, mau tetap berdiri tegak dengan idealisme,
atau perlahan tenggelam dalam strategi mereka yang melihat tribun sebagai ladang suara.
Dan di tengah semua ini, hanya satu yang perlu diingat,
Cinta sejati pada tim, tak butuh “kompensasi” tapi kesadaran.
Penulis: Reandi
