Tanggamus – Bintang Broadcast Media
Malam Senin, 4 Muharram 1447 Hijriah, suasana hening menyelimuti Masjid Baitur Ridho, yang berdiri kokoh di pesisir Pantai Kapuran, Kelurahan Pasar Madang, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus. Di masjid yang langsung menghadap laut ini, warga berkumpul dalam sebuah kegiatan sederhana namun penuh makna: silaturahmi, temu kangen, dzikir, dan istigasah.
Acara ini dipimpin oleh Kiyai Solihun dari Sidomulyo, Lampung Selatan, yang hadir membawa pesan ketenangan, harapan, dan kekuatan batin. Dalam tausiahnya, beliau mengajak masyarakat untuk memperbanyak dzikir dan sholawat, terlebih di bulan Muharram—bulan pembuka tahun Hijriah yang penuh keberkahan.
Kapuran bukanlah desa biasa. Letaknya yang tepat di bibir pantai menjadikannya daerah rawan bencana, terutama saat air laut pasang. Bahkan berpotensi Sunami Warga menyadari risiko itu, tapi mereka memilih menjaga wilayahnya bukan dengan tembok beton, melainkan dengan lantunan dzikir dari masjid, mushola, dan majelis-majelis kecil yang hidup setiap malam.
“Selama masih ada suara dzikir dan sholawat dari langgar, mushola, dan majelis-majelis di sepanjang pantai Kapuran, insyaAllah desa ini akan dijaga oleh Allah Swt dari segala bencana,” ujar Syahroni, tokoh masyarakat yang akrab disapa Ang Oni, dalam sambutannya malam itu.
Acara yang digelar di Masjid Baitur Ridho ini juga dihadiri oleh para tokoh agama dan masyarakat, di antaranya:
Kiyai Samsuri
Ustadz Rozikin
Ustadz Sabihis
Ustadz Hasan Basri
Ustadz Ujang Nasrudin
Ustadz Bisri
Haji Nurhadi
Haji Syahroni Tihat
serta Ustadz Sutarjo, Ketua BKM Masjid Baitur Ridho
Tak ketinggalan, ibu-ibu Majelis Taklim Baitur Ridho dan jamaah dari lingkungan sekitar turut hadir dengan penuh kekhusyukan.
Meski digelar tanpa megahnya dekorasi dan panggung, acara ini menghadirkan sesuatu yang lebih mendalam: keyakinan bersama bahwa doa yang dipanjatkan di tepi laut bisa menjadi penjaga yang tak terlihat.
Di Masjid Baitur Ridho Pantai Kapuran, tembok pelindung itu bernama dzikir. Sholawat menjadi pagar, dan keikhlasan warga menjadi kekuatan. Dari sini, doa-doa dilantunkan bukan hanya untuk keselamatan hari ini, tapi juga untuk generasi yang akan datang.
(Roni & Reza)
