Tasikmalaya, Jawa Barat – Bintang Broadcast Media | Senin, 7 Juli 2025
Langit Tasikmalaya terasa lebih teduh. Angin lembut mengiringi ribuan langkah para pencari cahaya yang datang dari berbagai pelosok Indonesia, memenuhi pelataran Pondok Pesantren Suryalaya. Suasana khusyuk dan haru menyelimuti ritual Manakiban Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN), sebuah warisan spiritual agung yang diwariskan oleh Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Aba Anom)—sosok ulama karismatik yang tak hanya membimbing dzikir, tapi juga menuntun jiwa menuju Sang Khalik.
Kegiatan manakiban ini digelar setiap tanggal 12 dalam hitungan bulan Jawa, menjadi momentum bulanan bagi para ikhwan dan jamaah untuk memperbarui niat, menyambung sanad dzikir, dan menguatkan ikatan ruhani dengan Allah SWT melalui talqin dzikir.
Bukan hanya ritual, ini adalah perjalanan spiritual. Para jamaah datang bukan sekadar hadir, tapi menghidupkan qalbu (hati), menghidupkan dzikir, dan menyerahkan segala keresahan duniawi dalam lantunan kalimat La ilaha illallah yang menggetarkan bumi dan langit.
Dalam wawancara khusus dengan Bintang Broadcast Media, Raja Suhaili dan Jahari, jamaah asal Kota Agung, Tanggamus, Lampung, mengungkapkan keajaiban batin yang mereka rasakan.
“Setelah ditalqin, dzikir menjadi lebih dalam. Hati terasa tenteram. Ada kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kami yakin, ini berkah dari guru mursyid kami, Aba Anom,” ungkap Raja Suhaili & jahari dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, Hasyim Hasari, jamaah dari Gunung Sugih, Lampung Tengah, menambahkan:
“Sebelum ditalqin, dzikir hanya di lisan. Tapi setelahnya, dzikir menyatu dalam jiwa. Seakan ada cahaya yang terus membersihkan hati dari kegelapan.”
Pimpinan Majelis Salam Baqo, Salam Abixthumahdi (Kg Amet), menyampaikan pesan penting kepada para ikhwan:
“Dzikir bukan hanya ibadah lisan, tapi jalan hidup. Setiap sholat, dzikir harian, mingguan, dan bulanan harus terus dilaksanakan. Jangan tinggalkan. Karena dalam dzikir itulah ruhani kita disucikan.”
Ia juga mengingatkan, bahwa manakiban adalah puncak perjumpaan spiritual bagi ikhwan TQN. Sebuah perjalanan menuju ketulusan dan cinta sejati kepada Allah SWT, melalui bimbingan guru yang bersanad.
“Semoga seluruh ikhwan yang telah ditalqin, senantiasa istiqomah dalam amalan dzikir, menjaga akhlak, dan menyebarkan cahaya kasih di tengah masyarakat,” tutupnya.
(Roni)

