Lampung – Sepak bola adalah soal persatuan, semangat kolektif, dan nyawa dari sebuah daerah yang menaruh harapan pada si kulit bundar. Namun di Lampung, yang terjadi justru sebaliknya, semangat itu tampak seperti bisnis “pecah belah dan kuasai”. Satu provinsi, satu tim, tapi banyak bendera suporter semuanya mengaku paling militan, paling awal, paling sah.
Mari kita tanya : untuk apa semua ini?
Dulu kita kenal Balafans, barisan awal pendukung PSBL Lampung yang berteriak dari tribun sebelum sepak bola Lampung dikenal luas. Lalu muncul Blaster Saburai, suporter yang dibesarkan saat Badak Lampung FC mencoba bertahan di kasta atas meski akhirnya tenggelam seperti kapal pecah. Kini, Bhayangkara Presisi Lampung FC datang dengan parade baru, Elbhara, Sikambhara, dan Studenti Del Sud.
Pertanyaannya:
Apakah ini benar-benar tentang cinta pada klub atau hanya sebatas kebutuhan membentuk identitas baru demi kepentingan kelompok tertentu?
Berpadu Tapi Terbelah : Realita Suporter Lampung
Semua mengaku mendukung tim kebanggaan Provinsi Lampung. Tapi mengapa tampil dengan nama, logo, bahkan agenda masing-masing? Apakah sulit untuk duduk satu tribun, memakai satu warna, dan menyanyikan satu chant kemenangan?
Apakah ini bentuk kebanggaan, atau sekadar ego sektoral yang dibungkus dengan spanduk suporter demi rencana di arena pemenangan yang akan datang melalui upaya banyak – banyak bersua foto dengan rombongan elite pemerintahan?
Kepentingan Siapa yang Bermain?
Mungkin ini saatnya kita jujur,
Ketika barisan suporter dijadikan komoditas politik dan sosial, maka yang terjadi bukan lagi semangat mendukung, tapi ajang pamer kekuasaan dan pencitraan. Suporter dijadikan “produk jualan” untuk kepentingan luar lapangan, jabatan, gengsi, bahkan proyek.
Karena itu, jangan heran jika bendera suporter makin banyak, tapi stadion akan tetap sepi. Jangan kaget jika nama-nama komunitas bermunculan, tapi nyanyian dukungan malah saling menenggelamkan, bukan menyatukan.
Jika Lampung ingin benar-benar besar di sepak bola nasional, maka yang dibutuhkan bukan banyak nama, tapi satu barisan. Bukan sekadar poster dan logo baru, tapi semangat persaudaraan yang kuat.
Karena sepak bola bukan ajang cari panggung.
Ini soal kebanggaan daerah.
Stadion bukan tempat kampanye, dan suporter bukan alat politik.
Lampung tidak butuh banyak nama. Lampung butuh satu suara.
Dan suara itu yang pasti bukan suara Pesanan.
Salam Suporter Lampung
Penulis : Reendi .H.R

