GUGUR DALAM SERANGAN ISRAEL–AS: Era Ali Khamenei Berakhir, Iran Tetapkan 40 Hari Berkabung Nasional

0

 

 

 

 

 

 

 

 

Bintang Broadcast Media – Peta politik Timur Tengah berubah drastis. Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ali Khamenei, dikonfirmasi gugur dalam serangan gabungan militer Amerika Serikat dan Israel yang mengguncang Teheran, Sabtu (28/2/2026).

Kabar ini bukan sekadar berita duka nasional bagi Iran, tetapi juga peristiwa geopolitik besar yang berpotensi memicu eskalasi regional dan ketegangan global.

Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Bendera dikibarkan setengah tiang. Ribuan warga turun ke jalan, meneriakkan solidaritas dan kemarahan, menandai babak baru dalam sejarah politik negeri para mullah tersebut.

Dari Gang Sempit Mashhad ke Puncak Kekuasaan
Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 di kota suci Mashhad, dari keluarga ulama sederhana. Ayahnya, Sayyed Javad Khamenei, dikenal sebagai ulama yang hidup dalam keterbatasan namun kaya nilai spiritual.

Didikan agama membentuk karakter Khamenei sejak kecil. Ia belajar di maktab, menghafal Al-Qur’an, mendalami sastra Arab, lalu menempuh pendidikan teologi di seminari Mashhad.

Di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab, ia mengasah pemahaman tentang logika, filsafat, dan fikih. Sejak usia muda, ia telah ditempa bukan hanya sebagai santri, tetapi sebagai kader ideologis.
Revolusi sebagai Jalan Hidup
Dekade 1960-an menjadi titik balik.

Khamenei muda aktif mengikuti ceramah ulama revolusioner yang menentang monarki. Tahun 1962, ia bergabung dengan gerakan yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini, tokoh sentral Revolusi Islam Iran.

Gerakan ini secara terbuka menantang kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang dinilai pro-Barat dan represif terhadap kelompok Islam politik.

Selama lebih dari 15 tahun, Khamenei menjalani penangkapan, pengawasan, dan tekanan aparat keamanan. Namun ia tidak mundur. Revolusi 1979 akhirnya menggulingkan monarki dan mengubah Iran menjadi Republik Islam.

Pemegang Otoritas Tertinggi Iran
Pasca wafatnya Khomeini pada 1989, Ali Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Jabatan ini bukan simbolik. Ia memegang kendali atas militer, kebijakan luar negeri, dan arah ideologi negara.

Selama puluhan tahun, ia menjadi arsitek sikap keras Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel. Di satu sisi, pendukungnya memandangnya sebagai penjaga revolusi dan simbol perlawanan terhadap dominasi Barat.

Di sisi lain, kritik internasional menilai kepemimpinannya memperdalam isolasi dan ketegangan regional.
Dampak Global dan Ancaman Eskalasi
Kematian Khamenei dalam serangan langsung yang dikaitkan dengan AS dan Israel berpotensi menjadi titik api konflik yang lebih luas.

Iran dikenal memiliki jaringan sekutu regional dan kekuatan militer yang signifikan. Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah Teheran akan membalas secara langsung, atau memilih strategi tekanan tidak langsung di kawasan?
Dunia kini menahan napas.

Gugurnya Ali Khamenei bukan hanya akhir dari satu figur sentral, tetapi juga awal dari fase paling menentukan dalam sejarah modern Iran. Transisi kepemimpinan akan menjadi ujian stabilitas internal sekaligus penentu arah hubungan Iran dengan Barat dan negara-negara kawasan.

Satu era telah berakhir. Ketidakpastian baru saja dimulai.(Roni)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini