Kekalahan dari Persib Bandung memicu polemik serius—penjualan tiket tribun timur dinilai mengabaikan identitas suporter lokal dan melemahkan atmosfer kandang.
Bandar Lampung — Bintang Broadcast Media Kekalahan Bhayangkara Presisi Lampung FC dari Persib Bandung dengan skor 2-4 dalam lanjutan Super League 2025/2026 tak berhenti sebagai catatan teknis di atas lapangan. Di balik hasil tersebut, mencuat polemik yang lebih dalam: kebijakan penjualan tiket tribun timur yang memantik kritik keras dari suporter tuan rumah.
Tribun yang sebelumnya dikampanyekan sebagai zona eksklusif bagi pendukung Lampung justru dibuka dengan sistem penjualan bebas (war). Keputusan ini dinilai tidak hanya melanggar komitmen awal, tetapi juga berpotensi menggerus kekuatan psikologis tim di kandang sendiri.
Ketua Sikambara Lampung, Junaedi, secara tegas mempertanyakan langkah tersebut. Ia menilai tribun timur seharusnya menjadi benteng utama suporter lokal, bukan justru dilepas tanpa pengendalian.
“Ini bukan sekadar soal tiket, ini soal identitas. Sejak awal kami mendorong agar tribun timur menjadi milik suporter Lampung. Kalau itu dibuka bebas, di mana letak komitmennya?” tegasnya, Jumat (1/5/2026).
Kritik ini mencerminkan kegelisahan yang lebih luas di kalangan suporter. Dalam sepak bola modern, dukungan tribun bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari kekuatan tim. Ketika ruang strategis seperti tribun timur kehilangan karakter, maka tekanan terhadap lawan pun ikut melemah.
Meski demikian, Junaedi tetap menyampaikan apresiasi kepada para suporter yang hadir langsung di stadion. Ia juga meminta maaf kepada mereka yang tidak mendapatkan tiket di tengah tingginya animo.
“Kami berterima kasih kepada semua yang hadir dan mendukung. Untuk yang belum kebagian tiket, ini menjadi evaluasi bersama ke depan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Sikambara Lampung akan tetap solid dan menjadi garda terdepan dalam mendukung sepak bola daerah. “Sikambara Lampung kompak, solid, dan akan terus berdiri untuk sepak bola Lampung,” tambahnya.
Di sisi lain, sikap sportif tetap ditunjukkan dengan memberikan apresiasi kepada Persib Bandung yang tampil konsisten dan efektif sepanjang pertandingan. Kemenangan ini mengukuhkan posisi Persib di puncak klasemen dengan 69 poin, menggeser pesaing terdekat melalui keunggulan head-to-head. Sementara Bhayangkara Presisi Lampung FC tertahan di peringkat keenam dengan 47 poin.
Pelatih Bhayangkara, Paul Munster, mengakui timnya kehilangan momentum di babak kedua setelah tampil cukup menjanjikan di awal laga.
“Kami memulai dengan baik, tapi gagal menjaga konsistensi. Setelah gol penentu, kami kehilangan kontrol permainan,” ujarnya.
Kekalahan ini pada akhirnya membuka dua pekerjaan rumah besar bagi Bhayangkara Presisi Lampung FC: membenahi performa di lapangan sekaligus mengevaluasi tata kelola pertandingan di luar lapangan. Sebab, ketika kekuatan tim dan soliditas suporter tidak berjalan seiring, maka kandang sendiri pun berisiko kehilangan maknanya.(Roni)

