BANDAR LAMPUNG —
Sebanyak 111.165 siswa jenjang SMA, SMK, SLB, dan program Kejar Paket C di Provinsi Lampung akan mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 yang dijadwalkan mulai akhir Oktober mendatang.
Menghadapi pelaksanaan TKA tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung menyiapkan strategi peningkatan kualitas pembelajaran. Sekolah tidak hanya didorong memperbanyak latihan soal, tetapi juga memperkuat proses pembelajaran di dalam kelas melalui program Double Teaching atau pengajaran ganda.
Bukan Sekadar Mengejar Nilai TKA
Strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat proses pembelajaran siswa menjelang pelaksanaan TKA.
Melalui pola double teaching, proses belajar diharapkan dapat berlangsung lebih efektif dengan dukungan lebih dari satu guru dalam kegiatan pembelajaran.
Pendekatan ini menjadi salah satu strategi Disdikbud Lampung dalam mempersiapkan siswa menghadapi asesmen akademik sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran.
Diterapkan di 17 SMA dengan Sistem Rotasi Guru
Program double teaching tersebut disebut akan diterapkan pada 17 SMA di Lampung dengan sistem rotasi guru.
Sistem tersebut menjadi langkah yang menarik karena penguatan pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui tambahan latihan soal, tetapi melalui optimalisasi tenaga pendidik dan proses belajar di kelas.
Dengan adanya rotasi guru, sekolah diharapkan dapat mengatur kebutuhan pembelajaran secara lebih optimal tanpa semata-mata berfokus pada persiapan menghadapi ujian.
111 Ribu Lebih Siswa Jadi Peserta
Jumlah peserta TKA 2026 yang mencapai 111.165 siswa menunjukkan besarnya skala pelaksanaan asesmen di Provinsi Lampung.
Peserta berasal dari jenjang SMA, SMK, SLB dan program Kejar Paket C.
Karena jumlah peserta cukup besar, kesiapan sekolah, guru dan siswa menjadi faktor penting agar pelaksanaan TKA dapat berjalan dengan baik.
Disdikbud Diminta Pastikan Program Tepat Sasaran
Program double teaching juga perlu diikuti dengan pengawasan terhadap pelaksanaannya di sekolah.
Jangan sampai program hanya berjalan secara administratif, sementara dampaknya terhadap kualitas pembelajaran siswa tidak terukur.
Sekolah yang menerapkan program tersebut perlu memastikan pembagian tugas guru, jadwal pembelajaran dan sistem rotasi benar-benar mendukung kebutuhan peserta didik.
Pada akhirnya, keberhasilan strategi tersebut bukan hanya diukur dari kesiapan siswa menghadapi TKA, tetapi juga dari seberapa jauh kualitas proses belajar mengajar mengalami peningkatan.
TKA Bukan Sekadar Tes, Tetapi Cermin Pembelajaran
Pelaksanaan TKA seharusnya menjadi momentum evaluasi terhadap proses pendidikan secara lebih luas.
Jika hasil akademik siswa belum optimal, persoalannya tidak semata-mata dibebankan kepada peserta didik. Kualitas pembelajaran, kesiapan guru, metode mengajar serta dukungan sekolah juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Dengan persiapan yang dilakukan Disdikbud Lampung, masyarakat kini menunggu apakah strategi Double Teaching di 17 SMA tersebut benar-benar mampu memberikan dampak terhadap kualitas pembelajaran dan kesiapan siswa menghadapi TKA 2026.

