Lampung – Bintang Broadcast Media(27 Juni 2025)
Dalam suasana santai namun penuh makna, Pimpinan Redaksi Bintang Broadcast Media, Heru Firmansyah, bersama tim redaksi melakukan bincang santai dengan sosok yang pernah mengabdi puluhan tahun di Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Wahyudin, BBA mantan pegawai Dirjen Keuangan yang kini telah memasuki masa purnabakti.
Di tengah secangkir kopi dan suasana penuh keakraban, Wahyudin membuka banyak pandangan yang menyentuh hati. Salah satunya adalah keprihatinannya terhadap kondisi integritas birokrasi di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung. Dengan nada lirih namun tegas, ia mengungkapkan bahwa praktik penggelapan dan korupsi masih sering ia dengar terjadi sebuah ironi dalam sistem yang seharusnya menjunjung tinggi akuntabilitas dan transparansi.
“Saya sudah tua, tidak punya kepentingan apapun. Tapi sayangnya, saya masih dengar banyak permainan uang yang tidak benar. Seolah para penegak hukum diam, tidak mendengar, tidak melihat dan ini bukan rahasia lagi” ujar Wahyudin.
Namun, ia tak ingin hanya berhenti pada kritik. Dalam nada optimisme yang bersahaja, Wahyudin menyampaikan harapan besar terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Ia berharap, keduanya mampu membawa perubahan yang signifikan dalam memberantas praktik korupsi di tanah air, khususnya di Provinsi Lampung.
“Saya tahu ini berat. Tapi semoga saja, di tangan pemimpin baru ini, ada angin segar. Semoga kejujuran kembali menjadi nilai utama dalam pemerintahan.”
Di luar soal tata kelola dan integritas birokrasi, Wahyudin menyampaikan pesan hidup yang sangat menyentuh kepada tim redaksi. Sebuah petuah dari pengalaman panjang dalam kehidupan dan kariernya sebagai abdi negara:
“Jangan takut salah. Jalani saja hidup ini dengan keberanian dan ketulusan. Karena dari kesalahan, kita belajar memperbaiki. Selama kita masih sholat, masih beribadah, insya Allah, Tuhan akan bimbing jalan kita,
“Dan satu lagi jangan takut pelit. Karena kadang, bukan pelit tapi cerdas dalam mengelola. Hidup hemat bukan berarti tidak berbagi, tapi tahu kapan, di mana, dan kepada siapa harus memberi.”
Bagi Wahyudin, hidup bukan soal banyak memberi semata, tetapi bagaimana memberi dengan bijaksana dan tidak membiasakan orang hidup dalam ketergantungan yang salah.
Pesan tersebut disambut dengan hening yang penuh perenungan oleh tim redaksi. Di tengah derasnya tuntutan dunia media dan kompleksitas kehidupan sosial-politik, kata-kata Wahyudin menjadi semacam oase pengingat bahwa dalam setiap langkah, penting untuk tetap membawa nilai spiritual dan keberanian dalam memperjuangkan kebenaran.
Pertemuan itu ditutup dengan saling doa dan harapan agar media tetap menjadi salah satu pilar demokrasi yang kuat, tidak tunduk pada tekanan kekuasaan, dan berani menjadi suara kebenaran.
Bintang Broadcast Media akan terus menjadi ruang bagi suara-suara jujur dan inspiratif, seperti yang ditunjukkan oleh tokoh Wahyudin, BBA. Karena di balik berita yang kita sampaikan, ada harapan bahwa bangsa ini bisa menjadi lebih baik dengan iman, dengan kejujuran, dan dengan hati nurani.

