MPLS Punya Cerita ?

0

 

 

Setiap tahun ajaran baru, pemandangan yang sama kembali berulang. Spanduk MPLS terbentang gagah di gerbang sekolah. Senyum manis para guru menyambut peserta didik baru, yang berdiri rapi dengan seragam serba baru. Harum sepatu, tas, dan kertas buku masih segar. Tapi ada satu yang tidak ikut baru cara penyambutan. Walau kini disebut “Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah,” tetap saja, banyak yang merasa déjà vu. Seolah yang berganti cuma bungkusnya, bukan isinya.

Dulu namanya MOS, sekarang MPLS. Katanya sih lebih ramah, lebih edukatif. Tapi mari jujur sebentar berapa banyak sekolah yang benar-benar menjalankannya dengan ruh pendidikan yang sehat?

Kadang yang terjadi bukan pengenalan lingkungan, tapi pertunjukan kekuasaan terselubung. Pihak sekolah sibuk membuat siswa baru merasa “rendah” agar nantinya bisa “dibentuk.” Dibentuk oleh siapa? Dengan cara apa? Itu yang sering tidak dijelaskan.

Tugas siswa baru kadang lebih mirip kontes kreativitas tanpa makna. Disuruh bawa barang-barang nyeleneh, disuruh hafal yel-yel yang tak jelas tujuannya, disuruh datang lebih pagi dari ayam kampung bangun. Semua katanya demi disiplin dan kebersamaan. Tapi aneh, mengapa kebersamaan harus dibentuk dengan rasa takut? Mengapa disiplin harus identik dengan perintah yang tak bisa dibantah?

Kita tidak anti terhadap MPLS. Bahkan kita sangat setuju jika kegiatan ini diarahkan untuk membangun karakter, pengenalan budaya sekolah, dan adaptasi psikologis yang sehat. Tapi mari kita bicara berdasarkan apa yang sudah terjadi ,praktik di lapangan sering kali masih melenceng. Banyak sekolah yang menjadikan MPLS sebagai panggung formalitas lebih sibuk mempersiapkan dekorasi dan acara hiburan ketimbang menyusun materi bermakna.

Di sekolah-sekolah yang katanya “favorit,” siswa baru disambut dengan aturan setumpuk dan tata tertib tebal, tapi minim ruang untuk bertanya, berdialog, atau sekadar merasa nyaman. Ada yang disuruh berdiri berjam-jam di lapangan, mengenakan atribut aneh, atau menyanyikan lagu dengan gaya “wajib lucu.” Kalau tidak, dianggap tidak kompak. Dianggap tidak siap jadi siswa. Padahal sekolah adalah rumah kedua, bukan barak pelatihan mental militer.

Lucunya, ketika ditanya apakah semua itu perlu, jawabannya selalu diplomatis,“Sudah sesuai pedoman, kok.” Tapi siapa yang memeriksa pelaksanaannya? Siapa yang mendengarkan suara siswa baru yang sebenarnya ingin bicara, tapi tak tahu harus ke mana? Di atas kertas semuanya memang terlihat rapi. Tapi di bawah tenda terik atau di balik aula sekolah, masih banyak cerita yang enggan terungkap.

Kita bisa belajar dari negara lain. Di Jepang, ada upacara penerimaan siswa yang penuh khidmat, disusul orientasi ringan dan penuh penghargaan terhadap individu. Di Amerika, kegiatan Freshman Orientation difokuskan pada membangun komunitas, memperkenalkan sistem pembelajaran, dan mendukung transisi emosional siswa. Di Finlandia, siswa baru justru dikenalkan pada suasana kelas yang demokratis, kreatif, dan bebas dari tekanan semua difasilitasi oleh guru dan konselor. Tidak ada topi karton atau perintah push-up sebelum masuk kelas.

Dan di sinilah harapan kita untuk Provinsi Lampung, mari buktikan bahwa kita bisa berubah. Bahwa pendidikan di Lampung tidak hanya bicara soal kurikulum dan ujian, tapi juga tentang cara memperlakukan manusia sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di sekolah. Kita ingin MPLS yang benar-benar menjadi ruang pembuka, bukan ruang penghakiman. Kita ingin generasi muda Lampung disambut dengan tangan terbuka, bukan dengan tekanan atau perintah sepihak.

Lampung memiliki potensi besar. Sekolah-sekolah di sini penuh dengan guru hebat, kepala sekolah yang visioner, dan siswa-siswa penuh semangat. Jangan rusak semangat itu dengan tradisi yang basi.

Mari buat MPLS jadi sesuatu yang dikenang karena memberi harapan, bukan karena membuat trauma. Biarlah kita jadi provinsi yang memimpin dalam perubahan. Tak perlu menunggu perintah pusat. Kalau memang mau berpihak pada anak didik, mulailah dari cara menyambut mereka.

MPLS bukan panggung adu kuasa. Ia adalah jembatan pertama menuju dunia pendidikan yang bermakna. Dan jembatan itu, seharusnya, dibangun dengan kasih sayang, bukan dengan perintah baris-berbaris atau teriakan semangat palsu.

Mari kita mulai dari Lampung. Jangan tunggu berubah, jadilah perubahan itu sendiri.

Redaksi Bintang Broadcast Media
Edisi Khusus Pendidikan – Juli 2025
Penulis: Reandi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini