Bandar Lampung-Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandar Lampung kembali menunjukkan taringnya. Senin (12/5/2025), aparat gabungan menggelar operasi besar-besaran guna menumpas aksi premanisme berkedok pengatur lalu lintas liar, atau yang kerap disebut ‘Pak Ogah’.
Sebanyak 14 orang diamankan dari sejumlah titik rawan, antara lain Jalan Teuku Umar, Jalan Pagar Alam, Jalan Soekarno Hatta, dan Jalan P. Antasari. Mereka kedapatan melakukan pungutan liar (pungli) terhadap pengendara, dengan modus membantu mengatur arus kendaraan.
“Mereka bertindak seolah petugas lalu lintas, namun tanpa izin atau kewenangan resmi,” jelas Kasi Humas Polresta Bandar Lampung, AKP Agustina Nilawati. Beberapa pelaku bahkan dilaporkan memaksa dan mengintimidasi pengemudi yang menolak memberi uang.
Barang bukti seperti rompi, peluit, dan uang tunai turut diamankan dalam operasi ini. Para pelaku kini tengah menjalani proses pendataan dan pembinaan di Mapolresta.
Respons Cepat, Tapi… Apakah Cukup?
Langkah cepat aparat mendapat sambutan positif dari masyarakat. Banyak warga merasa lebih aman saat berkendara, tanpa harus berhadapan dengan tekanan dari oknum tak bertanggung jawab.
Namun di balik apresiasi, muncul kekhawatiran.“Hari ini ditangkap, besok balik lagi?”
Fenomena ‘Pak Ogah’ bukan hanya soal hukum, tapi juga persoalan sosial dan ekonomi. Mayoritas pelaku adalah pengangguran, mantan buruh harian, hingga remaja putus sekolah yang mencari nafkah di jalanan. Jika hanya ditindak tanpa solusi, praktik ini berpotensi tumbuh kembali.
Langkah Lanjutan yang Diharapkan Publik
Pemerintah daerah diminta untuk tidak berhenti di razia semata. Dibutuhkan kebijakan yang menyentuh akar masalah, seperti:
Program padat karya dan pelatihan keterampilan bagi masyarakat marginal.
Sertifikasi resmi relawan lalu lintas sebagai solusi jangka menengah.
Kampanye sosial bersama tokoh masyarakat dan influencer lokal untuk menekan budaya memberi uang ke ‘Pak Ogah’.
CCTV dan patroli berkala di zona rawan pungli.
Jangan Cuma Tangkap, Tapi Juga Tangkap Akar Masalahnya
Operasi semacam ini memang harus dilakukan. Tapi jika ingin benar-benar menyelesaikan masalah, bukan sekadar memindahkan ‘Pak Ogah’ dari jalan ke ruang tahanan sementara, pemerintah harus hadir dengan solusi konkret.
Karena di balik peluit dan rompi lusuh itu, ada realita kehidupan yang keras, ada perut yang lapar, dan ada sistem yang belum sepenuhnya berpihak.

