Minggu lalu, publik Pesawaran sempat dibuat percaya bahwa arah angin dukungan mantan Bupati Aries Sandi Darma Putra (Ariesandi DP) sudah jelas mengarah ke paslon 02, Nanda – Antonius. Sebuah pertemuan santai menjadi sinyal politik yang dibaca banyak pihak sebagai bentuk restu. Tapi politik, seperti biasa, bukan tempat bagi kepastian. Hari ini, peta berubah. Tiba-tiba, sinyal-sinyal hangat juga muncul dari poros 01 bahkan tak segan terlihat dalam pertemuan dengan calon wakil 01 dan visualisasi kedekatan dengan massa pendukungnya.
Lalu publik pun bertanya ada apa gerangan?
Apakah ini bagian dari “politik dua kaki”? Atau justru satu langkah catur yang belum selesai dimainkan?
Ketika sosok yang sebelumnya digugurkan dari panggung pilkada kini kembali hadir di arena PSU lewat manuver-manuver simbolik, aroma negosiasi dan strategi jangka panjang mulai tercium. Apakah ini bentuk “pengaruh tanpa jabatan”, atau “jabatan melalui pengaruh”?
PSU di Pesawaran seolah menjadi drama politik yang naskahnya ditulis ulang setiap minggu. Dinamika ini menunjukkan bahwa di balik layar, skenario besar sedang disusun bukan untuk PSU semata, tapi mungkin untuk 2029, atau bahkan lebih dari itu.
Satu hal yang pasti: rakyat melihat.
Dan yang dilihat bukan hanya siapa didukung siapa tapi siapa yang sebenarnya sedang memainkan siapa.
Karena dalam politik, pelukan bukan selalu tanda cinta. Bisa jadi itu hanya strategi untuk menahan sebelum ditikam dari belakang.
Pesawaran tidak butuh aktor yang pintar berganti kostum. Pesawaran butuh pemimpin yang tahu arah, bukan hanya tahu ke mana angin bertiup.

