Bandar Lampung, 7 Juli 2025 – Dunia saat ini sedang berdiri di titik kritis revolusi teknologi. Artificial Intelligence (AI), yang dulu hanya dianggap mesin pintar, kini telah menjadi kekuatan raksasa yang membentuk masa depan umat manusia. Namun di tengah derasnya inovasi, muncul peringatan serius dari para pakar dan ilmuwan top dunia: “Saatnya berhenti sejenak.”
Bukan tanpa alasan. Tokoh-tokoh besar seperti Elon Musk, Yoshua Bengio, dan Stuart Russell menyerukan moratorium sementara pengembangan AI tingkat lanjut. Mereka khawatir, AI yang terlalu canggih tanpa pengawasan bisa menjadi ancaman nyata bahkan lebih berbahaya dari senjata nuklir.
AI telah membawa dampak positif yang luar biasa bagi dunia. Di bidang kesehatan, AI membantu mendiagnosis penyakit lebih cepat daripada dokter. Di sektor pendidikan, mesin pembelajaran adaptif mampu menyulap kelas daring jadi pengalaman yang lebih personal. AI juga mempercepat riset iklim, teknologi pangan, bahkan layanan publik.
Tapi di sisi lain, AI juga menghadirkan risiko yang tak kalah besar,Pekerjaan manusia tergantikan otomatisasi, Privasi publik terancam pengawasan digital,Deepfake dan AI manipulatif mengancam demokrasi.
“Kalau kita terus ngebut tanpa aturan main, kita bukan sedang membangun masa depan. Kita sedang main api dalam ruang tertutup,” tulis salah satu peneliti AI etis dari MIT dalam surat terbuka.
Bagi negara seperti Indonesia, peringatan ini bukan alarm biasa. Kita sedang dalam tahap awal adopsi AI dan inilah saatnya menentukan arah mau jadi pemain yang bijak, atau penonton yang ditinggal?
Potensi Indonesia besar. Anak muda kreatif, pasar digital luas, dan kebutuhan akan efisiensi tinggi. Tapi, tanpa regulasi, tanpa literasi teknologi, AI bisa malah memperdalam ketimpangan dan menyisihkan kelompok yang tak siap.
Pemerintah, akademisi, dan sektor swasta perlu duduk bersama. Jika dunia mulai menekan rem, Indonesia justru harus menyiapkan peta jalan (roadmap): bagaimana AI bisa digunakan untuk kebaikan, bukan kebingungan.
Peringatan dari para pakar bukan bentuk kepanikan tapi bentuk tanggung jawab. AI bukan musuh, tapi juga bukan dewa. Ia bisa membangun peradaban, tapi juga bisa menghancurkannya jika dibiarkan tumbuh tanpa batas.
Berhenti sejenak bukan berarti mundur. Itu berarti sadar dan bersiap. Dunia punya kesempatan untuk menyusun ulang arah, dan Indonesia harus jadi bagian dari suara yang berpikir panjang bukan yang sekadar ikut arus.
Bintang Broadcast Media akan terus mengawal perkembangan AI dan dampaknya bagi masa depan bangsa. Karena masa depan bukan milik teknologi tapi milik manusia yang mengendalikannya.
Penulis: Reandi

