Jakarta — Bintang Broadcast Media |
Gelombang kritik terhadap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kian menguat. Ekonom senior Prof. Ferry Latuhihin kembali menyeruak dengan kritik yang bukan sekadar tajam, tetapi membongkar akar persoalan: kebijakan fiskal tidak berjalan di laboratorium kamera, melainkan di ruang realitas ekonomi.
“Ekonomi tak mengenal panggung pencitraan,” tegas Ferry.
“Kebijakan salah, pasar menghukum. Bukan followers.”
Di tengah situasi ekonomi yang menuntut ketenangan, kalkulasi, dan ketegasan kebijakan, publik justru disuguhi parade visual dan potongan video motivasi dari pejabat negara. Semakin ramai di layar, semakin sunyi di meja kebijakan.
Ferry menyoroti langkah Menkeu memindahkan dana pemerintah ke bank negara. Alih-alih menjadi solusi fundamental, ia menyebutnya sebagai kebijakan dangkal yang menyalahi kaidah dasar ekonomi.
“Ini bukan soal memindahkan uang. Ini soal memindahkan risiko dan kepercayaan,” ujarnya.
“Dan sampai hari ini, pasar belum percaya.”
Jika fiskal adalah mesin, maka kebijakan ini dinilai sekadar menambah polesan cat bukan memperbaiki mesin.
Tak hanya bicara angka, Ferry mengetuk sisi moral kepemimpinan. Ia menyinggung gaya komunikasi Purbaya yang dinilai lebih sibuk tampil ketimbang merumuskan kebijakan yang menusuk inti persoalan.
“Negara ini butuh Menkeu yang bicara data, bukan hanya bicara dalam frame.”
Retorika yang indah bukanlah indikasi kecerdasan kebijakan, melainkan sering kali hanya kecakapan bermain sorotan lampu.
Era Kepemimpinan ‘Viewers Economy’
Fenomena ini mempertegas tren baru pejabat yang bekerja untuk viewers, bukan untuk rakyat. Kebijakan ekonomi dijadikan konten, bukan solusi. Dan ketika negara dikelola layaknya kanal hiburan, yang lahir hanyalah kehebohan tanpa perubahan.
inilah fase ketika panggung sosial media lebih keras dari lembar keputusan resmi. Transparansi publik digeser oleh estetika visual. Rakyat diberi tontonan, bukan kepastian.
Publik Butuh Kebijakan Inkrah, Bukan Caption Puitis
Dalam demokrasi sehat, kebijakan harus jelas, final, dan transparan. Tidak cukup viral.
Kritik Ferry menjadi tamparan: bangsa ini tidak boleh terjebak dalam drama digital sementara ekonomi berlari dengan angka-angka keras.
“Pasar menghargai kepastian, bukan keaktifan di media sosial.”
Kami tidak menilai gaya seseorang kami menilai dampaknya pada rakyat.
Citra tanpa substansi adalah pepohonan plastik di tengah ekonomi yang butuh oksigen.
Pejabat boleh berkomunikasi, tetapi jangan melupakan tugas,
membuat kebijakan yang nyata, transparan, dan inkrah bukan hanya bisa diedit dan diupload.
Rakyat tidak makan slideshow.
Pasar tidak stabil karena quote Instagram.
Dan masa depan tidak bisa ditopang oleh statistik views.
Penulis : Rendi hafiz

