
Dilarang Bikin Konten Jalan Rusak, Selebgram Susanti Justru Tuai Simpati Warganet: “Ada yang Lebih Takut Kamera Daripada Lubang di Jalan”
Bandar Lampung.Di tengah semangat warga memperbaiki jalan rusak secara swadaya, justru muncul sosok pejabat yang tampaknya lebih risih terhadap kamera ponsel ketimbang lubang menganga di jalan. Aksi selebgram Susanti yang hendak mengangkat potret kepedulian warga terhadap kerusakan Jalan Pangeran Tirtayasa, Kecamatan Sukabumi, malah dihentikan oleh seorang pria berbaju batik yang diduga kuat Camat Sukabumi, Sahrial.
Kejadian yang terjadi pada Selasa (22/4/2025) itu dengan cepat viral di media sosial. Dalam video yang beredar, terlihat Susanti sedang merekam aktivitas warga yang menimbun jalan rusak secara gotong royong. Namun tiba-tiba, datang pria berbaju batik menghampirinya dan berkata, “Saya minta tolong banget ya mbak, jangan bikin video.”
Bukan meminta solusi, bukan juga ikut menambal jalan, tapi justru meminta agar aksi dokumentasi dihentikan. Ironis.
Susanti, yang dikenal aktif menyuarakan isu sosial kepada lebih dari 200 ribu pengikutnya di Instagram, tampak kecewa. Namun dengan penuh hormat, ia menghentikan pengambilan gambar tersebut. Dalam unggahannya, ia menyayangkan sikap camat yang lebih cepat ‘mengamankan’ kamera ketimbang memperbaiki jalan yang telah menelan dua korban jiwa.
Tak hanya Susanti, sebelumnya beberapa wartawan juga mengaku sempat dilarang oleh camat Sukabumi saat hendak meliput kondisi jalan tersebut.
“Dari mana mas, untuk apa rekam-rekam jalan?” ujar Sahrial dari dalam mobil, dalam video yang juga sempat viral beberapa waktu lalu.
Jika jalan bisa bicara, mungkin mereka juga akan bingung: mengapa menyorot kerusakan menjadi masalah, sementara membiarkan kerusakan bertahun-tahun seolah tak mengapa?
Jalan Pangeran Tirtayasa bukan hanya akses warga Sukabumi, tapi penghubung vital ke Lampung Selatan dan Lampung Timur. Saat hujan, jalan berubah menjadi kubangan lumpur. Saat kering, debu beterbangan seperti kabut pagi yang menyambut paru-paru warga.
“Sudah dua orang meninggal selama enam bulan ini,” ujar seorang warga dengan nada prihatin.
Warga sudah terlalu lama bersabar. Selama lima tahun, harapan demi harapan kepada pemerintah menguap seperti debu di musim kemarau. Kini, ketika ada yang ingin menyuarakan lewat media sosial, suara itu justru diredam.
Sementara sang selebgram, yang berniat menyoroti aksi gotong royong warga, justru mendapat simpati luas. Banyak netizen memuji niat baiknya dan menyayangkan adanya upaya penghentian konten.
“Yang dilarang kontennya, bukan jalan rusaknya,” komentar salah satu netizen.
Warga berharap, bukan selebgram yang dilarang, tapi lubang di jalan yang segera ditutup. Karena yang membahayakan bukan kamera, tapi abai terhadap nyawa.
